Friday, May 31, 2013

Hari Jadi Surabaya 31 Mei

Sebagaimana lazim, tiap tanggal 31 Mei dirayakanlah sebagai hari jadi Kota Surabaya. Penetapan utamanya berdasarkan adanya peristiwa pembakaran kemah pertahanan serta kapal – kapal Tentara Mongol yang ngendon di tepi Sungai Surabaya pada tanggal 31 Mei 1293. Peristiwa yang kemudian diabadikan sebagai kata pendek dalam Bahasa Kawi ‘Sura ing Baya’, atau berarti berani dalam menghadapi bahaya. Frase yang ditujukan pula untuk mengenang keberanian para simpatisan Nararya Wijaya dalam menegakkan kedaulatan dari dominasi Mongol di Jawa. Tentunya, kemenangan tersebut amat membanggakan.Mengingat kemampuan tempur Tentara Mongol saat itu amat ditakuti di seluruh dunia. Pusat kota Abasiyah di Baghdad yang indah dan berbenteng kuat harus rela hancur lebur oleh amukan Mongol. Tapi di Nusantara lama, cerita bisa berbalik 180 derajat. Dalam catatan sejarah, hanya di Surabaya (dan satu lagi saat Mongol berusaha menganeksasi Jepang), Tentara Mongol menemui kegagalan dalam kampanye militer. Tak ayal, peristiwa itu diabadikan sebagai hari jadi kota Surabaya.

Tapi, apakah benar eksistensi Surabaya bertitik tolak dari peristiwa Mongol, sehingga 31 Mei diambil sebagai hari jadi?

Nama Surabaya sesungguhnya sudah dikenal jauh sebelum Majapahit berdiri. Pada medio abad 13M, leluhur Nararya Wijaya di Singasari, Shri Krtanegara mendirikan pemukiman kecil di tepi Sungai Pegirian (dekat Ampel sekarang) sebagai basis militer bagi para prajurit Singasari yang akan pergi ke Sumatera dalam Ekspedisi Pamalayu. Tulisan-tulisan musafir Tiongkok banyak yang membenarkan berita ini. Daerah di delta Pegirian ini kemudian terus berkembang sebagai areal dagang yang penting. Di Surabaya dikenal wilayah Peneleh (di daerah Surabaya Utara), yang diturunkan dari kata ‘pinilih’, sebagai tempat para pangeran dari Singasari bertempat tinggal untuk mengawasai jalannya administrasi pada masa itu. Sehingga eksistensi Surabaya sebenarnya pula sudah ada lama sebelum kemenangan atas Mongol terjadi.

Tetapi,tak dapat dipungkiri jika peran Surabaya memang mulai bertambah penting setelah peristiwa Mongol. Seiring itu pula Kerajaan Majapahit mulai berkembang. Namun, Majapahit sendiri tidak mengambil hari pertempuran 31 Mei tersebut sebagai tanggal kerajaan. Hari resmi Majapahit terjadi pada tanggal 15 bulan Kartika, atau bertepatan pada tanggal 10 Nopember 1293, saat Nararya Sanggramawijaya jumenengan sebagai Raja Majapahit memakai nama abiseka Shri Kertarejasa Jayawardhana. Sehingga agar memori peristiwa besar melawan militer Mongol tidak hilang begitu saja, diambillah kesepakatan, untuk tanggal 31 Mei ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya.



   

Friday, March 8, 2013

Zheng He, Penjelajah Kenamaan dari Dunia Timur


Jika seseorang dari dunia timur ditanya mengenai sosok yang paling diingat sebagai penjelajah atau pelaut ulung, jawabannya hampir pasti bukan Drake, Magelhanz, Cabral, Da Gama, D’Elcano, Cook ataupun Columbus. Jawaban akan memunculkan nama Zheng He, atau disebut pula sebagai Cheng Ho, pelaut tersohor dari Kekaisaran Naga di Tiongkok.

Zheng He terlahir dengan nama Ma He, putra seorang pemuka masyarakat Muslim di daerah Kunyang, Yunnan pada sekitar tahun 1371. Secara politik, masyarakat Yunnan saat itu merupakan pendukung Dinasti Yuan, penguasa Tiongkok dari tanah Mongolia. Pada periode 1381, situasi politik daratan Cina mengalami perubahan dengan naiknya Keluarga Zhu sebagai pemegang kekuasaan di pusat Negara. Keluarga Zhu, kemudian lebih dikenal dengan nama Dinasti Ming, secara intensif melakukan pembersihan terhadap loyalis Yuan diseluruh Cina. Tak terkecuali, keluarga Ma He yang tinggal di Yunnan. Saat itu, Ma He yang berusia 10 tahun-an, menyaksikan bagaimana kampung halamannya dihancurkan oleh Tentara Ming. Hampir seluruh kerabatnya tewas dalam peristiwa tersebut. Beruntung Ma He, karena dirinya tidak turut serta menjadi korban. Meskipun dirinya harus rela menjadi sebagai tawanan, untuk kemudian mengabdi di Istana salah satu Pangeran Ming di Beiping (sekarang menjadi Beijing, Ibukota RRC). Ma He menjadi sida-sida di Istana Pangeran Zhu Di, salah satu pangeran paling berbakat dalam sejarah Keluarga Ming.

Pribadi yang ada dalam diri Ma He, yang setelah dewasa bernama Zheng He, menarik perhatian Pangeran Zhu Di untuk menjadikan dirinya sebagai penasehat utama. Diriwayatkan, Zhu Di ‘hanya’ terpaut sebelas tahun lebih tua dari Zheng He, sehingga banyak ide-ide ‘nyentrik’ Zhu Di dapat diterjemahkan oleh Zheng He. Sebagai sida-sida (Ing. eunuch) di Istana Zhu Di, Zheng He tidak melulu mengurusi Istana Belakang, sebagaimana rekan-rekannya. Atas rekomendasi Pangeran Zhu Di, Zheng He dapat pula mengikuti pendidikan tatanegara serta kemiliteran.

Saat terjadi kerusuhan politik pada tahun 1399-1402, Zheng He banyak berjasa kepada Pangeran Zhu Di lewat aksi-aksinya di medan perang. Konflik internal antar bangsawan Ming  akhirnya dapat distabilkan oleh Pangeran Zhu Di, sehingga melambungkan posisinya menjadi penguasa utama daratan Tiongkok, bergelar Kaisar Yung Lo (disebut pula Yong Le, yang arti harfiahnya ‘Kebahagiaan Abadi’). Kaisar Yung Lo selanjutnya memilih Nanking (atau sekarang bernama Nanjing) sebagai ibukota kerajaan, meneruskan tradisi leluhur keluarga  Ming dalam menjalankan roda pemerintahan.

Pada masa Kaisar Yung Lo, dimulailah usaha untuk membuat proyek mercusuar, berupa misi kelautan.Tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk melakukan patroli terhadap Laut Cina Selatan dari para pemberontak kerajaan. Sebagai tambahan, misi kelautan ini juga bertujuan untuk menyiarkan kebesaran Kekaisaran Ming kepada dunia luar. Sebagai kepala proyek, dipilihlah Zheng He sekaligus sebagai desainer serta pelaksananya.Tugas berat tersebut dimulai Zheng He pada tahun 1403 di dok kapal di Nanjing. Zheng He secara teliti pula, merekrut perwira pilihan dari Tentara Ming, serta para intelektual muda semacam tabib, ahli pertanian, ahli ekonomi, maupun juru tulis untuk mengiringi misinya. Musim Panas di tahun 1405, armada Zheng He bertolak dari Soochow, dekat  Shanghai, untuk memulai perjalanannya.

Armada ini kemudian terkenal dalam sejarah kelautan sebagai ‘The Treasury Fleet’, dengan Zheng He bertindak sebagai laksamana. Berkekuatan 317 kapal dengan sekitar 28000 kru, Zheng He menuju Indochina, Semenanjung Melayu, Kepulauan Indonesia, Srilanka, India, Lautan Arab untuk kemudian sampai jauh di Pantai Timur Afrika.

Ekspedisi pertama Zheng He di tahun 1405, menjadi bahan diskusi penting dari sejarah Bangsa Indonesia, karena disinilah Zheng He menemui Majapahit yang berada pada babak akhir Perang Paregreg. Lewat tulisan-tulisan Ma Huan, seorang penulis dokumenter Muslim di Ekspedisi Zheng He, sejarahwan dapat merekonstruksi situasi sosial, ekonomi dan politik di Majapahit. Zheng He secara pribadi juga menyatakan kekagumannya terhadap kesuburan serta kekayaan tanah Nusantara saat itu. Kunjungannya ke daerah Pegunungan Ijen misalnya, mengungkap bahwa tambang belerang telah menjadi komoditi utama masyarakat  Nusantara sejak jaman lampau.

Ekspedisi Zheng He dalam mengarungi lautan luas terjadi hingga 7 (tujuh) kali. Dengan jumlah dan ukuran yang raksasa, misi tersebut kemudian membekas didalam memori masyarakat lokal yang melihatnya. Kapal utama Zheng He, diriwayatkan memiliki panjang sekitar 120 meter, lebar 50 meter dengan sembilan tiang pancang utama. Ukuran kasarnya sekitar 4-5 kali lebih besar dari kapal Columbus saat mendarat di Kepulauan Karibia di Amerika Tengah. Boleh jadi, armada Kekaisaran Ming saat itu merupakan yang terbesar di dunia. Tetapi, bukan ukuran serta jumlah pasukan yang kemudian banyak dibicarakan oleh khalayak ramai di masa-masa selanjutnya.

Ekspedisi Laksamana Zheng He sangat mengutamakan perdamaian di setiap tempat yang dikunjungi. Seakan menjadi pengejawantahan prinsip budaya timur yang cinta damai, misi Zheng He jauh dari aksi arogansi, intimidasi, perampokan atau pembantaian sebagaimana yang dilakukan oleh penjelajah macam Cortes dan Pizzaro. Sebagaimana tujuan utama pelayaran dari Kekaisaran Ming, kunjungan-kunjungan yang dilakukan banyak ditekankan pada pengikatan persahabatan melalui jalur budaya dan perdagangan. Zheng He secara aktif mempromosikan imigrasi keluarga-keluarga Tionghoa dari tanah asalnya ke daerah-daerah di ‘Laut Selatan’. Dalam ekspedisinya, Zheng He tak lupa  memperkenalkan prinsip dasar filosofi Tionghoa, teknik-teknik pertanian serta irigasi, maupun ajaran Islam Hanafiah di daerah-daerah yang dikunjunginya.

Hingga saat ini, jasa – jasa Zheng He tetap dikenang secara mendalam, terutama oleh masyarakat di sekitar perairan Nusantara. Di Semarang misalnya, Zheng He dianggap sebagai penjelmaan dewa, yang patungnya disucikan setiap Perayaan Tahun Baru Imlek dilaksanakan. Di Bukit China-Malaka, Malaysia, nama Zheng He dihormati dan dipuja dengan cara yang hampir sama. Nama Zheng He diabadikan pula sebagai salah satu nama Masjid Jami (digunakan sebagai tempat jamaah shalat wajib dan Jumah) di Surabaya, yang setiap waktunya dikunjungi oleh jamaah dari berbagai suku bangsa. Laksamana Zheng He sebenarnya telah memberi contoh, bagaimana seharusnya sebagai bangsa timur bersikap dalam pergaulan sehari-hari. Usaha-usaha Zheng He, jauh lebih nyaman untuk dikenang, daripada usaha banyak penjelajah lain yang dikenal dalam sejarah dilakukan dengan kekerasan, meskipun dengan embel-embel misi suci ketuhanan. Lewat prinsip harmoni, persahabatan dan perdamaian, suatu usaha membangun kebersamaan akan dapat terwujud, lebih dapat diterima, dan mudah untuk dikenang di ingatan masyarakat luas dalam waktu yang lama.

Sunday, January 27, 2013

Sumantri dan Sukrasana


Kisah ‘Sumantri dan Sukrasana’ terdapat pada epos cerita ‘Arjunasasrabahu’, yang cerita utamanya mengenai seorang raja yang terkenal sakti dan bijak bernama Arjunasasrabahu atau Arjuna Wijaya. Menurut versi pewayangan Nusantara, Arjunasasrabahu merupakan titisan Dewa Wisnu sebelum masa Ramayana dan Mahabharata. Nama Arjunasasrabahu dalam mitologi Hindu di India, merupakan raja sakti pemuja Dewa Dattatreya. Pujangga Indonesia banyak melakukan modifikasi cerita ini, termasuk munculnya sosok Sumantri dan Sukrasana.

Versi pewayangan bertutur tentang adanya kakak-beradik Sumantri dan Sukrasana, putra seorang pendeta sakti, Resi Suwandagni, atau versi Jawa menyebut pula sebagai Resi Wisanggeni, dari Pertapaan Arga Sekar. Secara silsilah, Resi Suwandagni merupakan saudara muda dari Resi Jamadagni, ayah dari Sang Rama Parasu,  atau disebut pula Parasurama ataupun Rama Bargawa. Rama Parasu ini kalau dari kisah - kisah kuno adalah pendekar keprajuritan, dimana akhir hayatnya terjadi saat beradu sakti melawan Sri Rama Wijaya, tokoh utama dalam Epos Ramayana.

Sumantri dan Sukrasana diceritakan memiliki fisik dan kepribadian yang bertolak belakang. Sumantri berperawakan gagah, tampan, simpatik dan penuh wibawa. Banyak pihak terpesona olehnya. Sementara sang adinda, Sukrasana, digambarkan berperawakan kerdil, perut tambun, agak hitam warna kulitnya. Tidak seperti Sumantri, Sukrasana hanya memiliki rekan sepermainan yang terbatas. Baik Sumantri maupun Sukrasana, memiliki kesaktian yang tinggi, meski jalan untuk mencapainya ditempuh secara berbeda. Sumantri mempelajari ilmu-ilmu kesaktian dari ayahnya melalui olah kanuragan yang teratur, prosedural, sebagaimana yang ditempuh para ksatria pada umumnya. Sementara, Sukrasana mempelajari ilmu dari sang ayah Resi Suwandagni, dengan banyak menyepi, memuja syukur serta  memuji kebesaran Tuhan telah terlimpah, sikap rendah hati dan nrima. Sukrasana berusaha menjaga harmonis alam dalam laku lahir serta batinnya. Lewat lelaku yang sedemikian, Sukrasana banyak mendapat anugrah dari para dewa. Sehingga boleh dikatakan kesaktian Sukrasana berada beberapa tingkat di atas ilmu Sumantri. Meski demikian, Sumantri dan Sukrasana tidak saling bersaing. Keduanya hidup rukun saling mengasihi sebagai sesama saudara dari darah Sang Wiku Suwandagni.

Saat mulai beranjak dewasa, Sumantri tumbuh menjadi ksatria yang pilih tanding, dan selalu ingin menjadi yang terbaik diantara rekan-rekannya. Sumantri kemudian berkeinginan untuk merubah nasib dengan menjadi punggawa di Kotaraja. Niat itu disampaikan kepada sang ayah, Sang Suwandagni. Dengan berat hati, Resi Suwandagni melepasnya. Sukrasana awalnya berkeinginan ikut merantau bersama Sumantri, namun dapat di-'tilap' saat Sukrasana sedang tidur. Sedih tentunya Sukrasana mendapati bahwa sang kakak, Sumantri, rupanya tidak berkenan mengajak dirinya merantau. Sumantri memang dalam hati, masih ada rasa malu memiliki saudara yang tergolong buruk rupa.

Singkat cerita, Sumantri berhasil menjadi petinggi di Kerajaan Maespati, tempat dimana Raja Arjunasasrabahu bertahta. Kerja keras dan rajin dari Sumantri membawanya menempati jabatan Amangkubumi, bergelar Patih Suwanda. Belum lagi didukung fisik hampir sempurna, Sumantri menjadi idola di negeri Maespati. Semua tugas dari Prabu Arjunasasrabahu dapat ditunaikannya dengan baik. Hingga suatu ketika, Sumantri diutus untuk melamar Dewi Citrawati dari Kerajaan Magada. Tugas berat ini pun berhasil diselesaikan. Lewat bantuan Sumantri pula, Negeri Magada dapat selamat dari ancaman serbuan seteru lama kerajaan dari Kerajaan Widarba.

Keberhasilan itu sempat membuat Sumantri lupa diri. Sanjungan dari para panglimanya membuat Sumantri memberanikan diri untuk tidak pulang ke Maespati. Sembari membawa Dewi Citrawati kekasih junjungannya, Sumantri mendirikan kemah di perbatasan Maespati. Sumantri mengirim surat menantang Prabu Sasrabahu untuk beruji kesaktian. Sumantri mulai meragukan kalau sesembahannya itu memang memiiki kelebihan diatas dirinya.

Murka Sang Sasrabahu mengetahui tingkah polah Sumantri yang mulai melewati batas. Tantangan Sumantri ditanggapi oleh Prabu Sasrabahu. Perkelahian hebat terjadi di antara keduanya. Nyata kalau Sang Sasrabahu memang seorang raja yang mumpuni. Sebagai titisan Wisnu, Sasrabahu memiliki kekuatan dan kedigdayaan yang berlipat-lipat, jauh diatas ilmu yang dimiliki Sumantri. Sumantri pun terpaksa mengakui kekalahannya. 

Beruntung Sumantri, karena Prabu Sasrabahu tidak menghukum kesalahannya. Hanya saja sebagai ganti hukuman, Sumantri diperintahkan memindahkan Taman Sriwedari dari Magada ke Maespati, memenuhi permintaan Dewi Citrawati yang sering rindu akan kampung halamannya. 
Sumantri pun berada dalam keadaan bingung.

'Bagaimana pula caranya memindahkan Taman Sriwedari yang sedemikian indah dan kesohor itu? ...
Bukankah pula Taman Sriwedari merupakan hadiah para Dewata yang dikhususkan untuk negeri Magada?'

Bermacam pertanyaan muncul di benak Sumantri, menambah kalut suasana batinnya. Dalam kebingungan, Sumantri teringat Sukrasana, saudara yang sudah bertahun-tahun ditinggalkannya. Sembari mengehingkan cipta dalam sepi, Sumantri memanggil adiknya secara gaib. Hadirlah Sukrasana di tempat Sumantri tinggal. Setelah saling bertegur melepas rindu, Sumantri mengutarakan maksudnya. Sukrasana pun tersenyum.

‘Bukan sesuatu yang sulit, Kakang Mantri’ ujar Sukrasana.’ Bantulah aku dalam berdoa kepada Sang Tunggal untuk mengijinkan maksud Kakang. Bagaimanapun banyak ilmu yang aku miliki, tanpa kehendak dari Yang Kuasa, tidak akan sanggup aku melakukannya’ tutur Sukrasana melanjutkan.

Maka hening kedua bersaudara itu dalam doa. Lewat puja mantra Sukrasana, Taman Sriwedari dapat berpindah secara singkat, dari Magada menuju lingkungan Kraton Maespati. Gembira seluruh isi Istana Maespati, terutama Dewi Citrawati menyaksikan taman tempat biasa dia bermain, sekarang telah berada di depan penglihatannya. Sumantri pun mendapat pujian dari berbagai fihak atas usahanya itu. Sementara Prabu Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati sedang asyik melihat-lihat isi taman, terdengar teriak dan jerit para pembantu keraton. Dikatakan ada setan kecil telah menyusup di Taman Sriwedari. Sumantri paham dengan kejadian yang berlangsung, itu pasti ulah Sukrasana. Segera ditemuinya Sang Adinda.

‘Sukrasana, aku mohon agar engkau menyingkir dahulu saat ini…..
Sang Prabu dan Permaisuri sedang menikmati keindahan isi Taman Sriwedari’ 
pinta Sumantri.

‘Kakang, aku hanya ingin melihat-lihat saja. Aku tidak akan ganggu mereka
’Lagipula, masih belum puas hatiku untuk melihat Taman Sriwedari ini, betul kiranya indah bagai Kahyangan Cakrakmbang tempat Sri Kamajaya dan Dewi Ratih bersemayam’ 
 ujar Sukrasana menerangkan.

‘Sukrasana…nanti kau boleh teruskan maksudmu itu, tetapi, jangan sekarang wahai adikku..banyak orang takut melihat dirimu’  timpal Sumantri.

‘Kakang Mantri, selain ingin melihat keindahan Taman Sriwedari, aku juga ingin melihat Sang Prabu Sasrabahu dan Dewi Citrawati , jujungan negeri kita itu' 
Sukrasana bersikeras tidak mau menyingkir dari Taman Sriwedari sebagaimana permintaan Sumantri.

Debat yang berkepanjangan rupanya membuat Sumantri gusar. Diambilnya anak panah beserta busurnya. Maksud Sumantri sebenarnya hanya agar adiknya menjadi takut untuk kemudian menjauh dari Sriwedari. Rupanya pegangan Sumantri lepas, dan tanpa sadar pula anak panah yang terambil merupakan anak panah sakti pusaka pemberian dari Resi Suwandagni, ayahnya. Anak panah sakti melesat dari busur Sumantri, menghujam dada Sukrasana, Sukrasana pun menemui pralaya.

Kematian Sukrasana ditangisi oleh Sumantri. Bagaimanapun Sukrasana adalah saudara yang amat dikasihinya. Tapi, sesal kemudian tidak banyak berguna. Sepanjang hidup, Sumantri dibayangi rasa berdosa yang tiada henti. Hingga pada suatu masa, ketika terjadi perang besar antara Maespati dan Alengkadiraja. Sumantri yang dibayangi kesedihan akan Sukrasana, terbunuh di tangan Rahwana, raja Alengkadiraja.

Kisah Sumantri dan Sukrasana mengandung banyak perlambang dan pelajaran yang berharga. Sikap yang ditampilkan dari sisi Sumantri merupakan penggambaran dari kebanyakan dari kita. Sebagaimana Sumantri dalam cerita ini, banyak dari kita memiliki keterampilan dari suatu latihan yang teratur. Entah lewat sekolah, kursus ataupun pendidikan formal lainnya. Tanpa sadar, bahwa yang kita dapatkan sejatinya adalah titipan Tuhan. Tak sedikit pula dari kita, lupa akan titipan tersebut. Kita perturutkan angkara, tidak jarang disertai bangga diri yang kelewatan. Ini digambarkan di kisah saat Sumantri  kemudian berani menantang Arjunasasrabahu setelah kesuksesan menghampiri dirinya. 
 
Sementara saat mendapat kesulitan, kita tanpa malu merengek bantuan kepada banyak fihak, termasuk kepada yang dulu pernah kita tinggalkan begitu saja. Setelah kesulitan terselesaikan, kembalilah kita lupa diri, tidak mengakui sumbangsih dari pihak lain. Bahkan pula, pihak yang telah berjasa kepada keberhasilan, kita campakkan lagi tanpa canggung.

Dalam kehidupan nyata, kita lebih suka melihat sosok-sosok seperti Sumantri yang memang lebih nyaman dipandang oleh mata duniawi. Bangsa kulit putih  punya peribahasa, yang sebenarnya sekadar seloroh, tetapi pada akhirnya banyak benarmya juga; ‘good looking tends to win’. Manusia yang mampu menampilkan kelebihan, entah fisik, intelekual atau material secara lahir, memang lebih mudah menarik simpati dari kalangan ramai.

Sifat Sukrasana di lain fihak, biasanya dimiliki orang-orang yang tidak begitu beruntung dari sisi kehidupan. Sukrasana biasanya ada pada diri orang yang hidup serba kekurangan, kesusahan dan akrab dengan kegagalan. Mereka tersingkir dari hingar bingarnya riuh dunia. Keberadaan Sukrasana di kehidupan nyata, sering dianggap sebagai angin lalu saja. Bahkan kehadirannya kerap kali dianggap sebagai perusuh mata dan pengganggu keindahan. Banyak yang tak sadar bahwa golongan ini bisa jadi memiliki tempat yang sangat baik di mata Tuhan, dikarenakan sikap ‘nrima’ dan syukur yang selalu mereka kembangkan. Dari ajaran suci kita mengetahui lewat doa, jerih payah dan ketabahan Kaum Sukrasana, Tuhan bahkan bersedia menunda murka serta hukuman yang sebenarnya hendak ditumpahkan menghukum kesombongan umat durjana. Perilaku ikhlas dari pemilik jiwa Sukrasana, sesungguhnya telah banyak memberi andil terhadap apa yang kita raih dalam kehidupan. Sayangnya, tak banyak dari kita menyadari akan hal itu, apatah lagi untuk sekadar berterimakasih, alih - alih memberikan perhatian balik yang layak terhadap mereka, Kaum Sukrasana. 

   

Monday, January 17, 2011

Gajah ring Majapahit

Umum adanya terhadap nama – nama bernuansa satwa dalam sejarah Indonesia kuno, tak terkecuali di Majapahit. Sebenarnya kalau diteliti, nama – nama tersebut adalah nama gelar yang disematkan kepada tokoh yang bersangkutan setelah kiprahnya diketahui masyarakat. Sayangnya, bangsa Indonesia tidak pandai menyimpan catatan terstruktur sehingga seringkali nama asli serta asal – usul si penyandang gelar hilang ditelan jaman. Pada akhirnya banyak mitos bermunculan yang seringkali membingungkan karena bercampurnya mistis dan kenyataan sejarah, suatu hal yang teramat unik dalam mempelajari nusantara pra-Indonesia. Dalam tulisan ini ditampilkan tokoh-tokoh bernama Gajah yang kebetulan sangat berperan dalam kelangsungan negara Majapahit, meski sekali lagi, nama asli serta data pribadi masih banyak mengandung misteri.
Yang pertama tentunya nama Gajah Mada, Mahapatih di Majapahit pada jaman Ratu Tribhuwana Tunggadewi hingga Shri Rajasanegara di kurun 1329-1357. Tidak ada catatan pasti mengenai jatidiri Gajah Mada. Nama aslinya pun tidak diketahui. Pendapat umum mengatakan Gajah Mada adalah anak keluarga petani dari daerah Blitar. Sebagian mengatakan beliau adalah keturunan prajurit Mongol yang tinggal dan menikah dengan wanita Jawa setelah peristiwa di Surabaya 1293. Hal ini menilik dari kemampuan diplomasi Gajah Mada yang banyak berciri Tionghoa, serta ditambah kenyataan Gajah Mada mampu membuat eksistensi Majapahit terhindar dari bentrokan dengan Dinasti Ming, penguasa Asia Timur saat itu. Pendapat – pendapat diatas hanya dugaan yang sangat lemah dari bukti – bukti sejarah. Nama Gajah Mada mulai muncul saat terjadi usaha penyelamatan Shri Jayanegara dari pemberontakan Kuti 1321. Setelah pemberontakan Kuti padam, barulah nama Gajah Mada tersemat padanya. Gajah artinya besar, atau pimpinan. Mada artinya setara, ada pula yang mengartikan prajurit. Jadi nama Gajah Mada dalam kesustraan Jawa kuno berarti pimpinan prajurit, atau prajurit yang agung. Berbeda dengan dengung Sumpah Palapa yang abadi, tidak banyak diketahui bagaimana beliau wafat. Gajah Mada tiba-tiba raib dari masyarakat luas pada tahun 1364, tanpa diketahui siapapun terkecuali keluarga dekatnya. Banyak cerita berkembang tentang wafat Gajah Mada, mulai moksa, sebagaimana kepercayaan masyarakat Hindu Indonesia masa itu, sampai mengasingkan diri dari Madakaripura di Lumajang menuju tempat nun jauh dari Jawa. Tetapi sekali lagi perkiraan – perkiran tersebut tidak ditunjang bukti yang kuat. Negarakertagama menyatakan pada tahun 1364 tersebut, Patih Gajah Mada wafat karena usia tua.
Gajah berikutnya Gajah Lembana, penerus Gajah Mada, pejabat Patih Majapahit saat meletus perang Paregreg 1404-1406. Salah satu alasan Bhre Wirabumi, pembesar Majapahit di Pamotan, berani mengangkat senjata terhadap Wikramawardhana, penguasa Majapahit di Trowulan adalah spekulasi akan berpihaknya Bhre Tumapel, seorang pangeran berpengaruh dari keluarga Majapahit kepada penguasa di Pamotan. Keyakinan Bhre Wirabhumi bertambah mengingat mundurnya kedisiplinan tentara Majapahit sejak wafatnya Gajah Mada. Perkiraan Bhre Wirabumi ternyata meleset, saat di babak akhir Paregreg Bhre Tumapel memilih berpihak pada Pura Trowulan, serta kemampuan tak terduga dari Gajah Lembana untuk menata kembali organisasi ketentaraan Majapahit. Nama Gajah Lembana sebenarnya bukan nama asli, Gajah berarti besar, sedang Lembana artinya pujian. Tidak jelas bagaimana nama ini diberikan kepada Sang Patih, terangnya berkat kerja beliau membantu Bhre Tumapel, Majapahit kembali memiliki organisasi yang rapi dan beroleh kemenangan di Perang Paregreg. Sebagaimana Gajah Mada, tidak banyak diketahui data diri serta riwayat Gajah Lembana.
Gajah yang terakhir adalah Narapati Gajah, atau Raden Gajah. Narapati Gajah merupakan salah satu panglima Majapahit dalam perang Paregreg. Nama Narapati Gajah berarti ‘yang tersangkut kematian besar’. Nama ini melekat kepada Senapati Gajah karena keberhasilannya menyergap Bhre Wirabumi saat melarikan diri dari Pamotan. Kedaton Pamotan yang ‘bedah’ tidak dihancurkan oleh pasukan Majapahit karena masih adanya penghormatan terhadap ibu Bhre Wirabumi, istri dari mendiang Shri Hayam Wuruk. Bhre Wirabumi yang berusaha melakukan perang gerilya di luar keraton tertangkap oleh pasukan Majapahit pimpinan Narapati Gajah untuk kemudian menerima hukuman mati dari raja Majapahit di Trowulan. Riwayat lengkap Raden Gajah tidak banyak diungkap, kecuali kematiannya saat terjadi kekacauan negara di masa pemerintahan Ratu Suhita 1433. Terbunuhnya Raden Gajah sebagai benteng terakhir penganut faham integralistik Gajah Mada merupakan kehilangan yang besar bagi Majapahit, hingga mempercepat redupnya sinar kerajaan secara luas.

Sunday, January 16, 2011

Ijo-ijoan

[Celetukan ini sebenarnya diinspirasi dari salah satu guyonan ludrukan Cak Kartolo. Acung jempol kepada si pengadaptasi]

Menjadi kebiasaan untuk penumpang KA Dhoho dari Surabaya untuk berhamburan keluar dari kereta saat mencapai Kertosono sebelum melanjutkan perjalanan ke Blitar. Waktu langsir yang cukupan lama biasanya dimanfaatkan para penumpang untuk ke toilet stasiun, melaksanakan shalat atau juga menyerbu warung – warung nasi pecel yang berjajar di kiri-kanan platform stasiun Kertosono. Dulu, warung – warung tersebut hanya sporadis satu atau dua stan saja, saat ini telah berkembang menjadi jajaran rapi berkat kerja keras para petugas di stasiun serta bantuan ‘guyub’ dari serikat pekerja asongan Daop VII Madiun. Latar belakang itulah yang menjadi setting lelucon ini

Di salah satu warung pecel bergerombol penumpang untuk mengantre makanan. Salah satu pemuda yang dari logatnya kemungkinan dari daerah Surabaya atau sekitarnya, ikut mengantri hingga tiba waktunya untuk mendapat giliran.

Pembeli: Buk, Pecel mboten athik tumpang (Bahasa Jawa campuran, ciri orang Surabaya,
Bu, Pecel tanpa tumpang)
Penjual: ndamel ijo-ijo an mas? (pake yang hijau? /maksudnya sayuran hijau yang mana?....biasanya di Kertosono sayuran bayam, lembayung atau serutan papaya muda)
Pembeli: Nggih, buk (Ya, bu)
Penjual: Sing pundi mas? (yang mana mas?)
Pembeli: Kodok ijo, ulo ijo, buto ijo…(Kodok hijau, ular hijau, raksasa hijau)
Penjual: …waah sampeyan wonten mawon mas….nopo mboten degan ijo pindhah....(sampeyan itu ada-ada saja mas, apa tidak mencari kelapa muda hijau* sekalian)..(ha2)

[kontan seluruh pengantri serta penjual tertawa terbahak-bahak]

Sekadar guyonan parikeno…

Thursday, December 30, 2010

Salya Gugur II: Salya Parwa (Bharatayudha)


Gugurnya Adipati Karna oleh Arjuna pada pertempuran hari ke-17 Perang Kurukhsetra membawa kesedihan baik bagi keluarga Kurawa maupun Pandawa. Bagi Pandawa, Karna adalah saudara tua yang dihormati. Sedang Kurawa berduka karena hilang lagi satu prajurit utama dari kubu Hastinapura. Keaadaan ini memaksa Duryudhana meminta kesediaan Prabu Salya, untuk menjadi senapati/panglima prajurit - prajurit Kurawa. Duryudhana mengerti benar, bahwa Salya tidak setuju akan terjadinya Perang Baratayudha. Duryudhana pun paham, meskipun Salya merupakan mertuanya, cinta Salya kepada Pandawa jauh lebih besar daripada kepada Keluarga Kurawa. Hal ini tak lepas dari kecintaan Prabu Salya kepada Dewi Madrim, adik perempuannya yang menjadi ibu dari Nakula – Sahadewa, bungsu di keluarga Pandawa.

Lewat diskusi panjang, Duryudhana akhirnya berhasil membujuk Salya menjadi pemimpin barisan Kurawa di medan laga. Dengan berat hati pula sebenarnya, Salya menerima tawaran Duryudhana. Sampai hari itu, Salya masih diliputi kesedihan atas gugurnya kerabat-kerabat dekatnya di Kurukhsetra. Disamping kematian sang menantu yakni Adipati Karna, Salya juga kehilangan  dua putra terkasih; Rukmarata dan Burisrawa yang telah gugur beberapa hari sebelumnya. Diceritakan bahwa Salya berputra 5 orang: Dewi Erawati (istri Prabu Baladewa di Mathura), Dewi Surtikanti (istri Adipati Karna di Awangga/Anga), Dewi Banowati (istri Prabu Duryudhana di Hastinapura), Rukmarata serta Burisrawa.

Maka bersorak-sorai pasukan Hastina saat pagi hari ke-18 peperangan, dimana Salya maju ke Palagan Kurukhsetra disertai panglima-panglima dari Mandaraka. Pasukan Pandawa pun menyambut dengan semangat tinggi, dipimpin Bhima dan Arjuna. Dalam waktu singkat, Salya berhasil membuat kocar – kacir barisan pasukan Pandawa. Salya seakan dikelilingi puluhan prajurit raksasa kerdil. Terbunuh satu raksasa, muncul dua raksasa baru, kemudian menjadi empat, enam-belas, dan begitu seterusnya. Inilah sebenarnya Sakti Chandabhirawa, ilmu tinggi warisan dari Sang Bagaspati.

Bhima dan Arjuna pun merasa kewalahan dengan hadirnya raksasa–raksasa Chandabhirawa, sehingga mengambil langkah mundur. Tanggap Sri Kresna, penasehat Pandawa menghadapi keadaan demikian. Dipanggillah Nakula dan Sadewa untuk mengahadang laju sang uwak. Diperintahkan oleh Kresna agar mereka berpakaian serba putih tanpa membawa senjata. Nakula – Sadewa pun menurut dan berhasil mendekati Prabu Salya tanpa mendapat hadangan dari raksasa Chandabhirawa. Salya sempat terkejut dengan kehadiran kemenakannya dengan cara seperti itu. Kemudian terjadilah adegan mengharukan. Serta merta Salya merangkul kemenakannya dengan erat.

”Nakula – Sadewa, aku menyayangimu seperti anakku sendiri…..ingatanku selalu kembali kepada adikku Si Madrim jika bertemu denganmu" ucap Salya.

Melihat Nakula  dan Sadewa berpakaian putih – putih, Salya sedikit terkesiap.

"Mengapa kalian berpakaian putih-putih seperti ini di medan perang?” tanya Prabu Salya menyelidik.

”Kanda Prabu Kresna yang telah memerintahkan kami” sahut Nakula dan Sadewa lirih.

Terdiam Salya mendengar jawaban Nakula-Sadewa. Matanya menerawang jauh.

”Hmm…rupanya Batara Wisnu (*) telah mengingatkan akan janjiku” gumam Salya.

”Anakku Nakula maupun Sadewa, aku beritahu bahwa dengan engkau berdua berpakaian putih – putih seperti ini, Kakakmu Sri Kresna memberi pesan pada diriku” ujar Sang Salya.

“ Ini berarti telah sampai waktu bagiku untuk menepati janji kepada Resi Bagaspati, ayah mertuaku. Warna baju dan selendang putih yang kalian berdua kenakan, adalah warna kesukaan Ramanda Bagaspati........”  ucap Prabu Salya dengan parau.

“ Ya, memang sudah waktunya aku kembalikan Chandabhirawa kepada yang lebih berhak” tambah Prabu Salya.

“ Nakula dan Sadewa, panggillah si Yudhistira untuk menghadapiku. Aku merasa hanya dia yang bisa aku titipi Chandabhirawa.......”. Sejenak Sang Salya terdiam.
“……..dan sepeninggalku nanti, aku titipkan Kerajaan Mandaraka kepada kalian berdua. Pimpinlah Negeri Mandaraka dengan baik. Tegakkan keadilan, dan ayomi kehidupan rakyat di Mandaraka”, berkata demikian, jatuhlah cucuran tangis Salya maupun Nakula – Sadewa.

Singkat cerita majulah Yudhistira ke peperangan, suatu hal yang jarang terjadi. Meskipun di masa mudanya Yudhistira seorang ksatria tangguh yang tak kalah jago dari adik-adiknya seperti Bhima dan Arjuna, tetapi minatnya tumbuh lebih besar kepada ilmu kenegaraan dan kebijaksanaan.

Melihat Yudhistira ada di medan perang, raksasa – raksasa Chandabhirawa menghilang satu demi satu sambil berteriak:  
”aku ikut, Bapak..aku kembali kepadamu, Bapak!”….

Konon, melihat sang Yudhistira, raksasa – raksasa bajang Chandabhirawa seakan melihat Resi Bagaspati melambaikan tangan, mengajak raksasa-raksasa kerdil itu mengikuti raga Yudhistira.

Salya pun tersenyum, lalu berkata;
”Yudhistira, ucap trimakasih engkau bersedia datang memenuhi permintaanku...
Ketahuilah, Ngger.... aji Chandrabhirawa telah aku relakan untuk engkau warisi. Dengan begitu tertebus pula dosaku kepada Ramanda Bagaspati. Beliau dan diriku adalah saudara di kehidupan yang lalu….
aku merupakan titisan Sumantri, sedang Ramanda Bagaspati adalah penjelmaan Sukrasana, saudaraku. Telah lama aku menantikan pertemuan kembali dengannya”

“Rupanya di peperangan ini, sukma Sukrasana datang untuk menjemputku. Gembira hatiku karenanya. Dengan kematianku pula, engkau dan saudaramu akan dapat memenangkan perang ini lebih mudah. Angkara murka Kurawa, memang harus segera terbasmi. Karena itu lemparkan tombakmu Yudhistira, aku sudah siap” tegas Sang Salya mantap tanpa ragu - ragu.

Menitik air mata Sang Yudhistira mendengar penjelasan itu. Sejurus kemudian sulung Pandawa itu mengambil tombak pusaka, dan dengan satu lemparan, gugurlah sang Salya di Kurukhsetra.


Catatan:
- Cerita Narasoma dan Salya Gugur di tulisan ini banyak dipengaruhi Versi Jawa yang tidak diketemukan di versi aslinya, Mahabharata versi Wyasa. Pujangga-pujangga di Nusantara telah banyak menggubah cerita-cerita yang ada, agar lebih menarik dan sesuai dengan masyarakat lokal. Jika dibawakan oleh seorang dalang yang berpengalaman, Kisah Salya Gugur akan sanggup membuat penonton bungkam serta berkaca – kaca, terutama di bagian akhir cerita

- Sumantri dan Sukrasana adalah putra Begawan Swandagni di Epos 'Arjunasasrabahu'. Sumantri di masa hidupnya melakukan kesalahan yang tidak ia sengaja, menyebabkan Sukrasana, saudaranya, terbunuh. Karena rasa cinta yang besar kepada saudaranya itu, kematian Sukrasana sangat disesali Sumantri sepanjang hidupnya. Diilhami kepercayaan pada masa itu, diceritakan  bahwa penjelmaan sebagai Narasoma (Salya) merupakan masa penebusan dosa bagi Sumantri. Sebagai referensi dapat dibaca pada Kisah "Sumantri dan Sukrasana".

- (*) Sri Kresna dalam Wiracarita Mahabharata merupakan representasi dari Sang Hyang Wisnu yang turun ke dunia untuk memadamkan kejahatan dari Para Kurawa.

Monday, December 20, 2010

Salya Gugur I: Narasoma


Cerita Narasoma dipetik dari Epik Mahabharata yang banyak dipengaruhi versi Pewayangan Nusantara. Versi asli Mahabharata menceritakan adanya nama Salya, seorang raja dari daerah Madras, India. Saat akan pecah Perang Bharatayudha, Salya berkeinginan memberikan dukungan kepada Pandawa, akan tetapi di tengah jalan tertipu bujuk rayu Duryudana. Hingga akhirnya dalam Perang Bharatyudha di Kurukhsetra, Salya tergabung dengan kubu Kurawa dari Hastinapura.

Versi Nusantara menceritakan kehidupan Sri Salya secara lebih panjang lebar. Salya saat masih muda bernama Narasoma, Pangeran Mahkota dari kerajaan Mandaraka. Saat beranjak dewasa, Narasoma didesak oleh ayahnya, Prabu Mandrapati (ada juga yang menyebut Prabu Mandradipa) agar segera mencari pasangan hidup, sehingga tahta Mandaraka dapat segera dilakukan suksesi. Prabu Mandrapati bermaksud untuk lengser keprabon, madheg pinandhita (suatu cerita yang diambil kebiasaan dari raja – raja Indonesia di masa Hindu).

Narasoma masygul, enggan untuk memenuhi keinginan Sang Ramanda. Ia merasa belum cukup umur dan masih bercita-cita mencari ilmu dari berbagai guru yang ada di pertapaan – pertapaan terpencil. Narasoma pun minggat dari istana saat tekanan untuk menikah dari keluarga semakin kuat.

Di dalam perjalanan, Narasoma bertemu pendeta sakti berwujud raksasa bernama Bagaspati. Pertemuan ini suatu kebetulan, karena Bagaspati telah berjalan berhari-hari dengan maksud untuk bertemu dengan Narasoma. Bagaspati diminta oleh anak perempuan tunggalnya untuk dipertemukan dengan Narasoma. Konon, Narasoma telah membuatnya jatuh cinta lewat mimpi-mimpi yang dialami setelah bertapa untuk mendapatkan jodoh. Mendengar cerita ini, Narasoma menolak. Dia merasa enggan untuk harus menikahi seorang raseksi (raksasa perempuan), meski itu anak seorang brahmana sakti. Singkat kata terjadi perkelahian antara Narasoma dan Bagaspati, Narasoma mengalami kekalahan. Dengan berat hati Narasoma menuruti Bagaspati untuk dibawa ke pertapaannya di Argobelah. Sesampai di Argobelah, Narasoma kaget bukan kepalang. Anak Bagaspati ternyata seorang putri yang jelita, bernama Pujawati. Pujawati adalah anak perempuan Resi Bagaspati pemberian dari para dewa. Maka berlangsunglah pernikahan antara Narasoma dan Pujawati disaksikan oleh penduduk Argobelah.

Selang beberapa hari setelah pernikahan, Narasoma sering terlihat termenung sendiri. Sebagai pendeta yang sidik wacana, Bagaspati menangkap isi hati Narasoma. Maka dipanggillah sang menantu.

”Narasoma, aku berterimakasih engkau telah memenuhi keinginan si Pujawati, meski aku pun tahu engkau malu menganggap diriku sebagai ayah mertuamu’..demikian ucap sang Pendeta.

”Ah, tidak Bapak, aku tidak berpikir sedemikian” jawab Narasoma.

”Jangan berbohong, Narasoma, aku tahu benar isi hatimu” timpal Bagaspati. Narasoma tak bisa membantah, dia memang merasa risih dengan adanya Bagaspati yang berwujud raksasa sebagai mertuanya.

”Panggil si Pujawati kesini”, sambung sang Pendeta.

Datanglah Pujawati ke ruang itu.

”Narasoma, untuk melapangkan kepulanganmu ke Mandaraka, aku akan moksa. Sudah cukup dharmaku di madyapada ini. Aku ingin kembali ke puncak dewa-dewa. Sebagai wasiat, aku titip anakku si Pujawati” demikian pesan Resi Bagaspati.

“ Aku akan wariskan pula ajian Chandabhirawa, yang bisa engkau pakai sebagai senjata andalanmu. Namun engkau harus berhati – hati, Narasoma, jangan sampai engkau bentrok dengan orang dengan sifat seperti aku. Ajian itu tidak akan mempan menghadapinya. Aku seorang berdarah putih (*seorang penyabar), berhati-hatilah dengan orang seperti itu. Jika engkau tidak bisa mengelak untuk bertempur dengannya, artinya itu saat dharma-mu telah usai...” tambah Sang Bagaspati.

Mendengar pesan dari Sang Resi, Narasoma maupun Pujawati berlinang air mata. Terutama bagi Pujawati, kata – kata Sang Resi bagai kalimat perpisahan yang memilukan. Sang Bagaspati tersenyum melihat putri cantik kesayangannya itu.
“Pujawati, janganlah engkau menangis. Temani hidup Narasoma dengan setia. Suatu hari kelak, Narasoma akan jadi raja besar dan ternama……sebagai penanda atas restu dan doaku untukmu, ubahlah namamu menjadi Setyawati saat menjadi permaisuri nanti” pesan dari Resi Bagaspati.

Tak lama kemudian, Sang Resi mengambil sikap sempurna, dan hilang dari pandangan Narasoma maupun Pujawati. Sang Resi telah mangkat.

Singkat cerita, Narasoma kembali ke Mandaraka, menjadi raja bergelar Sri Maharaja Salya. Konon, sifat darah putih yang dimaksud Bagaspati ada pada diri Yudhistira, seorang pangeran keturunan Bharata/Kuru yang sabar dan bijaksana. Dalam perang Bharatayudha, Salya gugur oleh Yudhistira.

[bersambung] : Salya Gugur II: Salya Parwa (Bharatayudha)