Bikin perubahan itu, apalagi menyangkut suatu tata dunia baru, seperti kata pepatah ' mudah diucap daripada dilakukan'. Seumpama secara internal berhasil dilakukan misalnya konsolidasi, tetapi eksternal bisa jadi faktor penghambat yang tidak kecil.
Ini misalnya, dari peringatan tanggal 18 April, yang di tahun 1955 terjadi Pembukaan Konferensi Asia Afrika, inti tujuannya adalah membuat suatu tatanan global yang mengangkat prestise negeri - negeri di Asia, Afrika dan Amerika Latin sebagai bekas koloni Eropa.
Bung Karno kemudian lebih lanjut membentuk NEFO, atau New Emerging Forces sebagai kelanjutan KAA 1955. Kemudian diselenggarakan GANEFO (Games of New Emerging Forces) 1963 di Jakarta, suatu acara pesta sukan, atau kompetisi olahraga sebagai tandingan Olimpiade milik IOC, yang notabene banyak dikuasai negeri - negeri mapan, atau disebut juga OLDEFO (Old Established Emerging Forces).
Tapi toh kita semua tahu bagaimana nasib aliansi KAA, yang pada akhirnya seperti hilang tanpa bekas. Barat menuduh paguyuban KAA terlalu condong ke politik kiri, atau dekat dengan gerakan komunisme, suatu tudingan yang amat lazim, serta kemudian mematikan banyak karir tokoh politik petinggi gerakan KAA. Bung Karno sebagai contoh harus turun panggung di 1967 karena isu politik kiri. Lalu Kwame N'Krumah, pemimpin Ghana, dikudeta pihak militer Ghana di 1966 saat melawat ke Republik Komunis Tiongkok RRC. Kemudian U Nu dari Burma, terkena kudeta militer karena lagi - lagi tuduhan komunisme. Lalu ada nama pula Joao Gulart dari Brasil dan Patrice Lumumba dari Kongo, yang disingkirkan karena hembusan kencang isu gerakan kiri. Gulart maupun Lumumba meskipun tidak hadir di KAA 1955, terkenal lantang menjadi pendukung hasil - hasil dari konferensi tersebut. Tersingkirnya tokoh - tokoh itu, menjadi salah satu sebab surutnya semangat Bandung 1955.
Padahal, trend semacam ini masih terus ada hingga masa sekarang. Pertarungan geopolitik antara pihak yang ingin bekembang sebagai kekuatan baru dengan pihak status quo masihlah tetap relevan hingga masa sekarang,
Lalu bagaimana dengan sikap kita, bangsa Indonesia?
Dari Peringatan KAA 1955 kita paham, bahwa gagasan yang progresif, perlu didukung dengan organisasi dan ketahanan dalam menghadapi tantangannya. KAA 1955 tidak menemui maksudnya, karena ketidakberhasilan memoles kekuatan internal serta membangun benteng dari tekanan politik eksternal.
Kita sebenarnya, sudah punya bekal dari konsep - konsep para sesepuh bangsa, misalnya 'Berdikari', 'Trisakti' ataupun 'Ekonomi Rakyat'. Maka bidang - bidang itulah yang perlu digembleng: kemandirian politik, kekuatan dan demokrasi ekonomi, pembangunan sarana kesehatan dan pendidikan serta pengembangan budaya nasional. Tentu saja, eksekusi akan lebih mendapat hasil jika penegakan hukum dan pemberantasan KKN dapat dijalankan.Ini semestinya menjadi roh dari pembangunan kita. Tidak kemudian kita terjebak dalam bermacam masalah pragmatis, misalnya pemenuhan angka statistik ataupun pemeringkatan semu dari lembaga asing, yang barangkali saja hanya jebakan agar kita lupa tujuan pembangunan nasional.
Maka semua itu, sekali lagi bergantung pada pikiran dan daya upaya kita. Jika hal sedemikian dapat kita laksanakan, sudah barang tentu, kita dapat berharap lebih banyak, bahkan kemudian dapat menyempurnakan pelaksanaan dari cita - cita Dasasila Bandung 1955.
No comments:
Post a Comment