Hari ini 26 April, hari yang sering dikenang sebagai Hari Chernobyl. Sekira 40 tahun silam, di tahun 1986, reaktor nuklir no 4 di Chernobyl, saat itu milik Soviet Uni, sekarang berada di tanah Ukraina, mengalami kebocoran. Ribuan manusia (tak kurang sekitar 4 ribu jiwa, langsung ataupun tak langsung), serta jutaan rubel atau dolar menjadi harga taruhan dari kecelakaan teknologi nuklir. Belum termasuk ribuan kasus terkait, macam kanker tiroid dan kontaminasi radioaktif di hasil pertanian dan ternak dari seluruh Eropa, yang figur pastinya bisa beragam. Chernobyl 1986 menurut catatan, adalah kecelakaan terburuk dalam sejarah operasional reaktor nuklir, sebelum di tahun 2011 mendapat catatan kontemporer dari Fukushima di Tohoku, Jepang dengan skala dan akibat setara.
Setiap kali bicara Chernobyl, maka ceritanya akan menuju ke aplikasi nuklir sebagai salah satu bahan bakar non - fossil. Ini juga yang terjadi di Indonesia, debat Chernobyl berkait erat dengan keinginan kita utuk mengembangkan energi non - fossil, atau juga sebagai energi terbarukan.
Argumentasi pro - nuklir, menyorot kapada potensi energinya. Jika kita punya pengukur skala kapasitas tenaga 0 -100, maka nuklir ada di poin 92 - 93, sementara terdekat adalah gas alam 54 - 55, dan yang lain macam biomassa, angin, sel surya ada di bawahnya. Makanya, mesin - mesin perang Amerika, misalnya saja kapal induk kelas utama macam USS Nimitz atau USS Gerald Ford, sanggup berlayar 25 - 30 tahun tanpa henti sebelum isi bahan bakar lagi, karena mereka pakai nuklir sebagai bahan bakar. Energi nuklir termasuk bersih, tanpa ada gas buang atau gas rumah kaca sebagai biang kerok naiknya suhu dan kacaunya iklim global kita akhir - akhir ini.
Tapi buat yang kontra, juga tidak kurang alasan. Chernobyl di Soviet Ukraina 1986, Fukushima 2011 ataupun Three Miles Island di Amerika 1979 sering dijadikan contoh akan kekhawatiran terhadap energi nuklir. Negeri adidaya macam Amerika dan Soviet di masa perang dingin saja bisa kecelakaan, bahkan Jepang yang terkenal sangat disiplin juga pernah kecolongan, apalagi di kita. Artinya negara mapan teknologi pun tidak kebal dari resiko kegagalan pada faktor keamanan energi nuklir. Belum termasuk potensi akan masalah limbah radioaktif dan juga tekanan politik luar negeri semacam yang kita sering saksikan dari politik di negeri seberang.
Tapi kita boleh tidak berkecil hati. Teknologi ini, cepat atau lambat perlu kita kuasai untuk bermacam sebab dan kepentingan. Pemerintah kita sejak jaman Bung Karno sudah punya keinginan menguasai teknologi nuklir. Tahun 2032 - 2039, diharapkan di negeri kita akan ada stasiun tenaga nuklir, mungkin kecil - kecilan kapasitasnya. Ahli - ahli kita juga sudah banyak yang mumpuni. Di BRIN kabarnya sudah dikembangkan oleh para peneliti: SMC, 'small modular reactor', yang konon, bisa lebih mudah dikendalikan operasionalnya. Akan tetapi, memang belum dapat dipastikan di mana stasiun pembangkit tersebut akan beroperasi. Secara sosial, masyarakat kita masih belum dapat menerima halaman belakangnya, misalnya, nanti didirikan stasiun nuklir. Melihat lambang radioaktif saja kemungkinan orang sudah siap untuk 'puputan' dalam menentangnya.
Jadi bagaimana kemudian perlu disikapi hal semacam ini?
Disamping nuklir, tetaplah perlu kita kembangkan energi yang lain; biomassa, geothermal, surya, mikro-hidro dll, meskipun skala aplikasinya masih relatif terbatas, bahkan sementara hanya marak di tingkat artikel ilmiah. Tetapi, yang tidak boleh dilupakan, adalah membangun faktor manusia, jiwa dan raga bangsa Indonesia, agar suatu saat nanti benar - benar siap menjalankan suatu teknologi yang canggih. Sistem pendidikan kita, musti diperbaiki, agar jiwa - jiwa yang 'nyeleneh', anti sains dan 'keblinger' dapat sehat sebagai masyarakat maju dan progesif. Ini pekerjaan rumah kita yang sesungguhnya, sebelum pembangunan teknologi maju macam teknologi nuklir dilakukan.
'Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya', pesan gegap gempita Pak WR Supratman pada tahun 1920 -an, cukuplah sebagai pengingat bahwa energi masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi lebih oleh manusia ataupun masyarakat yang mengoperasikan maupun menjalankannya.
No comments:
Post a Comment