Saturday, April 25, 2026

Memorabilia Konferensi Asia Afrika 1955

 

Bikin perubahan itu, apalagi menyangkut suatu tata dunia baru, seperti kata pepatah ' mudah diucap daripada dilakukan'. Seumpama secara internal berhasil dilakukan misalnya konsolidasi, tetapi eksternal bisa jadi faktor penghambat yang tidak kecil.
Ini misalnya, dari peringatan tanggal 18 April, yang di tahun 1955 terjadi Pembukaan Konferensi Asia Afrika, inti tujuannya adalah membuat suatu tatanan global yang mengangkat prestise negeri - negeri di Asia, Afrika dan Amerika Latin sebagai bekas koloni Eropa.
Bung Karno kemudian lebih lanjut membentuk NEFO, atau New Emerging Forces sebagai kelanjutan KAA 1955. Kemudian diselenggarakan GANEFO (Games of New Emerging Forces) 1963 di Jakarta, suatu acara pesta sukan, atau kompetisi olahraga sebagai tandingan Olimpiade milik IOC, yang notabene banyak dikuasai negeri - negeri mapan, atau disebut juga OLDEFO (Old Established Emerging Forces).
Tapi toh kita semua tahu bagaimana nasib aliansi KAA, yang pada akhirnya seperti hilang tanpa bekas. Barat menuduh paguyuban KAA terlalu condong ke politik kiri, atau dekat dengan gerakan komunisme, suatu tudingan yang amat lazim, serta kemudian mematikan banyak karir tokoh politik petinggi gerakan KAA. Bung Karno sebagai contoh harus turun panggung di 1967 karena isu politik kiri. Lalu Kwame N'Krumah, pemimpin Ghana, dikudeta pihak militer Ghana di 1966 saat melawat ke Republik Komunis Tiongkok RRC. Kemudian U Nu dari Burma, terkena kudeta militer karena lagi - lagi tuduhan komunisme. Lalu ada nama pula Joao Gulart dari Brasil dan Patrice Lumumba dari Kongo, yang disingkirkan karena hembusan kencang isu gerakan kiri. Gulart maupun Lumumba meskipun tidak hadir di KAA 1955, terkenal lantang menjadi pendukung hasil - hasil dari konferensi tersebut. Tersingkirnya tokoh - tokoh itu, menjadi salah satu sebab surutnya semangat Bandung 1955.
Padahal, trend semacam ini masih terus ada hingga masa sekarang. Pertarungan geopolitik antara pihak yang ingin bekembang sebagai kekuatan baru dengan pihak status quo masihlah tetap relevan hingga masa sekarang,
Lalu bagaimana dengan sikap kita, bangsa Indonesia?
Dari Peringatan KAA 1955 kita paham, bahwa gagasan yang progresif, perlu didukung dengan organisasi dan ketahanan dalam menghadapi tantangannya. KAA 1955 tidak menemui maksudnya, karena ketidakberhasilan memoles kekuatan internal serta membangun benteng dari tekanan politik eksternal.
Kita sebenarnya, sudah punya bekal dari konsep - konsep para sesepuh bangsa, misalnya 'Berdikari', 'Trisakti' ataupun 'Ekonomi Rakyat'. Maka bidang - bidang itulah yang perlu digembleng: kemandirian politik, kekuatan dan demokrasi ekonomi, pembangunan sarana kesehatan dan pendidikan serta pengembangan budaya nasional. Tentu saja, eksekusi akan lebih mendapat hasil jika penegakan hukum dan pemberantasan KKN dapat dijalankan.Ini semestinya menjadi roh dari pembangunan kita. Tidak kemudian kita terjebak dalam bermacam masalah pragmatis, misalnya pemenuhan angka statistik ataupun pemeringkatan semu dari lembaga asing, yang barangkali saja hanya jebakan agar kita lupa tujuan pembangunan nasional.
Maka semua itu, sekali lagi bergantung pada pikiran dan daya upaya kita. Jika hal sedemikian dapat kita laksanakan, sudah barang tentu, kita dapat berharap lebih banyak, bahkan kemudian dapat menyempurnakan pelaksanaan dari cita - cita Dasasila Bandung 1955.

Catatan 40 Tahun Chernobyl 1986

 

 

Hari ini 26 April, hari yang sering dikenang sebagai Hari Chernobyl. Sekira 40 tahun silam, di tahun 1986, reaktor nuklir no 4 di Chernobyl, saat itu milik Soviet Uni, sekarang berada di tanah Ukraina, mengalami kebocoran. Ribuan manusia (tak kurang sekitar 4 ribu jiwa, langsung ataupun tak langsung), serta jutaan rubel atau dolar menjadi harga taruhan dari kecelakaan teknologi nuklir. Belum termasuk ribuan kasus terkait, macam kanker tiroid dan kontaminasi radioaktif di hasil pertanian dan ternak dari seluruh Eropa, yang figur pastinya bisa beragam. Chernobyl 1986 menurut catatan, adalah kecelakaan terburuk dalam sejarah operasional reaktor nuklir, sebelum di tahun 2011 mendapat catatan kontemporer dari Fukushima di Tohoku, Jepang dengan skala dan akibat setara.

Setiap kali bicara Chernobyl, maka ceritanya akan menuju ke aplikasi nuklir sebagai salah satu bahan bakar non - fossil. Ini juga yang terjadi di Indonesia, debat Chernobyl berkait erat dengan keinginan kita utuk mengembangkan energi non - fossil, atau juga sebagai energi terbarukan.

Argumentasi pro - nuklir, menyorot kapada potensi energinya. Jika kita punya pengukur skala kapasitas tenaga 0 -100, maka nuklir ada di poin 92 - 93, sementara terdekat adalah gas alam 54 - 55, dan yang lain macam biomassa, angin, sel surya ada di bawahnya. Makanya, mesin - mesin perang Amerika, misalnya saja kapal induk kelas utama macam  USS Nimitz atau USS Gerald Ford, sanggup berlayar 25 - 30 tahun tanpa henti sebelum isi bahan bakar lagi, karena mereka pakai nuklir sebagai bahan bakar. Energi nuklir termasuk bersih, tanpa ada gas buang atau gas rumah kaca sebagai biang kerok naiknya suhu dan kacaunya iklim global kita akhir - akhir ini.

Tapi buat yang kontra, juga tidak kurang alasan. Chernobyl di Soviet Ukraina 1986, Fukushima 2011 ataupun Three Miles Island di Amerika 1979 sering dijadikan contoh akan kekhawatiran terhadap energi nuklir. Negeri adidaya macam Amerika dan Soviet di masa perang dingin saja bisa kecelakaan, bahkan Jepang yang terkenal sangat disiplin juga pernah kecolongan, apalagi di kita. Artinya negara mapan teknologi pun tidak kebal dari resiko kegagalan pada faktor keamanan energi nuklir. Belum termasuk potensi akan masalah limbah radioaktif dan juga tekanan politik luar negeri semacam yang kita sering saksikan dari politik di negeri seberang.

Tapi kita boleh tidak berkecil hati. Teknologi ini, cepat atau lambat perlu kita kuasai untuk bermacam sebab dan kepentingan. Pemerintah kita sejak jaman Bung Karno sudah punya keinginan menguasai teknologi nuklir. Tahun 2032 - 2039, diharapkan di negeri kita akan ada stasiun tenaga nuklir, mungkin kecil - kecilan kapasitasnya. Ahli - ahli kita juga sudah banyak yang mumpuni. Di BRIN kabarnya sudah dikembangkan oleh para peneliti: SMC, 'small modular reactor', yang konon, bisa lebih mudah dikendalikan operasionalnya. Akan tetapi, memang belum dapat dipastikan di mana stasiun pembangkit tersebut akan beroperasi. Secara sosial, masyarakat kita masih belum dapat menerima halaman belakangnya, misalnya, nanti didirikan stasiun nuklir. Melihat lambang radioaktif saja kemungkinan orang sudah siap  untuk 'puputan' dalam menentangnya.

Jadi bagaimana kemudian perlu disikapi hal semacam ini?

Disamping nuklir, tetaplah perlu kita kembangkan energi yang lain; biomassa, geothermal, surya, mikro-hidro dll, meskipun skala aplikasinya masih relatif terbatas, bahkan sementara hanya marak di tingkat artikel ilmiah. Tetapi, yang tidak boleh dilupakan, adalah membangun faktor manusia, jiwa dan raga bangsa Indonesia, agar suatu saat nanti benar - benar siap menjalankan suatu teknologi yang canggih. Sistem pendidikan kita, musti diperbaiki, agar jiwa - jiwa yang 'nyeleneh', anti sains dan 'keblinger' dapat sehat sebagai masyarakat maju dan progesif. Ini pekerjaan rumah kita yang sesungguhnya, sebelum pembangunan teknologi maju macam teknologi nuklir dilakukan.

'Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya', pesan gegap gempita Pak WR Supratman pada tahun 1920 -an, cukuplah sebagai pengingat bahwa energi masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi lebih oleh manusia ataupun masyarakat yang mengoperasikan maupun menjalankannya.