Umum adanya terhadap nama – nama bernuansa satwa dalam sejarah Indonesia kuno, tak terkecuali di Majapahit. Sebenarnya kalau diteliti, nama – nama tersebut adalah nama gelar yang disematkan kepada tokoh yang bersangkutan setelah kiprahnya diketahui masyarakat. Sayangnya, bangsa Indonesia tidak pandai menyimpan catatan terstruktur sehingga seringkali nama asli serta asal – usul si penyandang gelar hilang ditelan jaman. Pada akhirnya banyak mitos bermunculan yang seringkali membingungkan karena bercampurnya mistis dan kenyataan sejarah, suatu hal yang teramat unik dalam mempelajari nusantara pra-Indonesia. Dalam tulisan ini ditampilkan tokoh-tokoh bernama Gajah yang kebetulan sangat berperan dalam kelangsungan negara Majapahit, meski sekali lagi, nama asli serta data pribadi masih banyak mengandung misteri.
Yang pertama tentunya nama Gajah Mada, Mahapatih di Majapahit pada jaman Ratu Tribhuwana Tunggadewi hingga Shri Rajasanegara di kurun 1329-1357. Tidak ada catatan pasti mengenai jatidiri Gajah Mada. Nama aslinya pun tidak diketahui. Pendapat umum mengatakan Gajah Mada adalah anak keluarga petani dari daerah Blitar. Sebagian mengatakan beliau adalah keturunan prajurit Mongol yang tinggal dan menikah dengan wanita Jawa setelah peristiwa di Surabaya 1293. Hal ini menilik dari kemampuan diplomasi Gajah Mada yang banyak berciri Tionghoa, serta ditambah kenyataan Gajah Mada mampu membuat eksistensi Majapahit terhindar dari bentrokan dengan Dinasti Ming, penguasa Asia Timur saat itu. Pendapat – pendapat diatas hanya dugaan yang sangat lemah dari bukti – bukti sejarah. Nama Gajah Mada mulai muncul saat terjadi usaha penyelamatan Shri Jayanegara dari pemberontakan Kuti 1321. Setelah pemberontakan Kuti padam, barulah nama Gajah Mada tersemat padanya. Gajah artinya besar, atau pimpinan. Mada artinya setara, ada pula yang mengartikan prajurit. Jadi nama Gajah Mada dalam kesustraan Jawa kuno berarti pimpinan prajurit, atau prajurit yang agung. Berbeda dengan dengung Sumpah Palapa yang abadi, tidak banyak diketahui bagaimana beliau wafat. Gajah Mada tiba-tiba raib dari masyarakat luas pada tahun 1364, tanpa diketahui siapapun terkecuali keluarga dekatnya. Banyak cerita berkembang tentang wafat Gajah Mada, mulai moksa, sebagaimana kepercayaan masyarakat Hindu Indonesia masa itu, sampai mengasingkan diri dari Madakaripura di Lumajang menuju tempat nun jauh dari Jawa. Tetapi sekali lagi perkiraan – perkiran tersebut tidak ditunjang bukti yang kuat. Negarakertagama menyatakan pada tahun 1364 tersebut, Patih Gajah Mada wafat karena usia tua.
Gajah berikutnya Gajah Lembana, penerus Gajah Mada, pejabat Patih Majapahit saat meletus perang Paregreg 1404-1406. Salah satu alasan Bhre Wirabumi, pembesar Majapahit di Pamotan, berani mengangkat senjata terhadap Wikramawardhana, penguasa Majapahit di Trowulan adalah spekulasi akan berpihaknya Bhre Tumapel, seorang pangeran berpengaruh dari keluarga Majapahit kepada penguasa di Pamotan. Keyakinan Bhre Wirabhumi bertambah mengingat mundurnya kedisiplinan tentara Majapahit sejak wafatnya Gajah Mada. Perkiraan Bhre Wirabumi ternyata meleset, saat di babak akhir Paregreg Bhre Tumapel memilih berpihak pada Pura Trowulan, serta kemampuan tak terduga dari Gajah Lembana untuk menata kembali organisasi ketentaraan Majapahit. Nama Gajah Lembana sebenarnya bukan nama asli, Gajah berarti besar, sedang Lembana artinya pujian. Tidak jelas bagaimana nama ini diberikan kepada Sang Patih, terangnya berkat kerja beliau membantu Bhre Tumapel, Majapahit kembali memiliki organisasi yang rapi dan beroleh kemenangan di Perang Paregreg. Sebagaimana Gajah Mada, tidak banyak diketahui data diri serta riwayat Gajah Lembana.
Gajah yang terakhir adalah Narapati Gajah, atau Raden Gajah. Narapati Gajah merupakan salah satu panglima Majapahit dalam perang Paregreg. Nama Narapati Gajah berarti ‘yang tersangkut kematian besar’. Nama ini melekat kepada Senapati Gajah karena keberhasilannya menyergap Bhre Wirabumi saat melarikan diri dari Pamotan. Kedaton Pamotan yang ‘bedah’ tidak dihancurkan oleh pasukan Majapahit karena masih adanya penghormatan terhadap ibu Bhre Wirabumi, istri dari mendiang Shri Hayam Wuruk. Bhre Wirabumi yang berusaha melakukan perang gerilya di luar keraton tertangkap oleh pasukan Majapahit pimpinan Narapati Gajah untuk kemudian menerima hukuman mati dari raja Majapahit di Trowulan. Riwayat lengkap Raden Gajah tidak banyak diungkap, kecuali kematiannya saat terjadi kekacauan negara di masa pemerintahan Ratu Suhita 1433. Terbunuhnya Raden Gajah sebagai benteng terakhir penganut faham integralistik Gajah Mada merupakan kehilangan yang besar bagi Majapahit, hingga mempercepat redupnya sinar kerajaan secara luas.
Monday, January 17, 2011
Sunday, January 16, 2011
Ijo-ijoan
[Celetukan ini sebenarnya diinspirasi dari salah satu guyonan ludrukan Cak Kartolo. Acung jempol kepada si pengadaptasi]
Menjadi kebiasaan untuk penumpang KA Dhoho dari Surabaya untuk berhamburan keluar dari kereta saat mencapai Kertosono sebelum melanjutkan perjalanan ke Blitar. Waktu langsir yang cukupan lama biasanya dimanfaatkan para penumpang untuk ke toilet stasiun, melaksanakan shalat atau juga menyerbu warung – warung nasi pecel yang berjajar di kiri-kanan platform stasiun Kertosono. Dulu, warung – warung tersebut hanya sporadis satu atau dua stan saja, saat ini telah berkembang menjadi jajaran rapi berkat kerja keras para petugas di stasiun serta bantuan ‘guyub’ dari serikat pekerja asongan Daop VII Madiun. Latar belakang itulah yang menjadi setting lelucon ini
Di salah satu warung pecel bergerombol penumpang untuk mengantre makanan. Salah satu pemuda yang dari logatnya kemungkinan dari daerah Surabaya atau sekitarnya, ikut mengantri hingga tiba waktunya untuk mendapat giliran.
Pembeli: Buk, Pecel mboten athik tumpang (Bahasa Jawa campuran, ciri orang Surabaya,
Bu, Pecel tanpa tumpang)
Penjual: ndamel ijo-ijo an mas? (pake yang hijau? /maksudnya sayuran hijau yang mana?....biasanya di Kertosono sayuran bayam, lembayung atau serutan papaya muda)
Pembeli: Nggih, buk (Ya, bu)
Penjual: Sing pundi mas? (yang mana mas?)
Pembeli: Kodok ijo, ulo ijo, buto ijo…(Kodok hijau, ular hijau, raksasa hijau)
Penjual: …waah sampeyan wonten mawon mas….nopo mboten degan ijo pindhah....(sampeyan itu ada-ada saja mas, apa tidak mencari kelapa muda hijau* sekalian)..(ha2)
[kontan seluruh pengantri serta penjual tertawa terbahak-bahak]
Sekadar guyonan parikeno…
Menjadi kebiasaan untuk penumpang KA Dhoho dari Surabaya untuk berhamburan keluar dari kereta saat mencapai Kertosono sebelum melanjutkan perjalanan ke Blitar. Waktu langsir yang cukupan lama biasanya dimanfaatkan para penumpang untuk ke toilet stasiun, melaksanakan shalat atau juga menyerbu warung – warung nasi pecel yang berjajar di kiri-kanan platform stasiun Kertosono. Dulu, warung – warung tersebut hanya sporadis satu atau dua stan saja, saat ini telah berkembang menjadi jajaran rapi berkat kerja keras para petugas di stasiun serta bantuan ‘guyub’ dari serikat pekerja asongan Daop VII Madiun. Latar belakang itulah yang menjadi setting lelucon ini
Di salah satu warung pecel bergerombol penumpang untuk mengantre makanan. Salah satu pemuda yang dari logatnya kemungkinan dari daerah Surabaya atau sekitarnya, ikut mengantri hingga tiba waktunya untuk mendapat giliran.
Pembeli: Buk, Pecel mboten athik tumpang (Bahasa Jawa campuran, ciri orang Surabaya,
Bu, Pecel tanpa tumpang)
Penjual: ndamel ijo-ijo an mas? (pake yang hijau? /maksudnya sayuran hijau yang mana?....biasanya di Kertosono sayuran bayam, lembayung atau serutan papaya muda)
Pembeli: Nggih, buk (Ya, bu)
Penjual: Sing pundi mas? (yang mana mas?)
Pembeli: Kodok ijo, ulo ijo, buto ijo…(Kodok hijau, ular hijau, raksasa hijau)
Penjual: …waah sampeyan wonten mawon mas….nopo mboten degan ijo pindhah....(sampeyan itu ada-ada saja mas, apa tidak mencari kelapa muda hijau* sekalian)..(ha2)
[kontan seluruh pengantri serta penjual tertawa terbahak-bahak]
Sekadar guyonan parikeno…
Thursday, December 30, 2010
Salya Gugur II: Salya Parwa (Bharatayudha)
Gugurnya Adipati Karna oleh
Arjuna pada pertempuran hari ke-17 Perang Kurukhsetra membawa kesedihan baik
bagi keluarga Kurawa maupun Pandawa. Bagi Pandawa, Karna adalah saudara tua
yang dihormati. Sedang Kurawa berduka karena hilang lagi satu prajurit utama
dari kubu Hastinapura. Keaadaan ini memaksa Duryudhana meminta kesediaan Prabu
Salya, untuk menjadi senapati/panglima prajurit - prajurit Kurawa. Duryudhana mengerti
benar, bahwa Salya tidak setuju akan terjadinya Perang Baratayudha. Duryudhana
pun paham, meskipun Salya merupakan mertuanya, cinta Salya kepada Pandawa jauh
lebih besar daripada kepada Keluarga Kurawa. Hal ini tak lepas dari kecintaan
Prabu Salya kepada Dewi Madrim, adik perempuannya yang menjadi ibu dari Nakula
– Sahadewa, bungsu di keluarga Pandawa.
Lewat diskusi panjang,
Duryudhana akhirnya berhasil membujuk Salya menjadi pemimpin barisan Kurawa di
medan laga. Dengan berat hati pula sebenarnya, Salya menerima tawaran
Duryudhana. Sampai hari itu, Salya masih diliputi kesedihan atas gugurnya
kerabat-kerabat dekatnya di Kurukhsetra. Disamping kematian sang menantu yakni
Adipati Karna, Salya juga kehilangan dua putra terkasih; Rukmarata dan
Burisrawa yang telah gugur beberapa hari sebelumnya. Diceritakan bahwa Salya
berputra 5 orang: Dewi Erawati (istri Prabu Baladewa di Mathura), Dewi Surtikanti
(istri Adipati Karna di Awangga/Anga), Dewi Banowati (istri Prabu Duryudhana di
Hastinapura), Rukmarata serta Burisrawa.
Maka bersorak-sorai pasukan
Hastina saat pagi hari ke-18 peperangan, dimana Salya maju ke Palagan
Kurukhsetra disertai panglima-panglima dari Mandaraka. Pasukan Pandawa pun
menyambut dengan semangat tinggi, dipimpin Bhima dan Arjuna. Dalam waktu
singkat, Salya berhasil membuat kocar – kacir barisan pasukan Pandawa. Salya
seakan dikelilingi puluhan prajurit raksasa kerdil. Terbunuh satu raksasa,
muncul dua raksasa baru, kemudian menjadi empat, enam-belas, dan begitu
seterusnya. Inilah sebenarnya Sakti Chandabhirawa, ilmu tinggi warisan dari
Sang Bagaspati.
Bhima dan Arjuna pun merasa kewalahan dengan hadirnya raksasa–raksasa Chandabhirawa, sehingga mengambil langkah mundur. Tanggap Sri Kresna, penasehat Pandawa menghadapi keadaan demikian. Dipanggillah Nakula dan Sadewa untuk mengahadang laju sang uwak. Diperintahkan oleh Kresna agar mereka berpakaian serba putih tanpa membawa senjata. Nakula – Sadewa pun menurut dan berhasil mendekati Prabu Salya tanpa mendapat hadangan dari raksasa Chandabhirawa. Salya sempat terkejut dengan kehadiran kemenakannya dengan cara seperti itu. Kemudian terjadilah adegan mengharukan. Serta merta Salya merangkul kemenakannya dengan erat.
Bhima dan Arjuna pun merasa kewalahan dengan hadirnya raksasa–raksasa Chandabhirawa, sehingga mengambil langkah mundur. Tanggap Sri Kresna, penasehat Pandawa menghadapi keadaan demikian. Dipanggillah Nakula dan Sadewa untuk mengahadang laju sang uwak. Diperintahkan oleh Kresna agar mereka berpakaian serba putih tanpa membawa senjata. Nakula – Sadewa pun menurut dan berhasil mendekati Prabu Salya tanpa mendapat hadangan dari raksasa Chandabhirawa. Salya sempat terkejut dengan kehadiran kemenakannya dengan cara seperti itu. Kemudian terjadilah adegan mengharukan. Serta merta Salya merangkul kemenakannya dengan erat.
”Nakula – Sadewa, aku
menyayangimu seperti anakku sendiri…..ingatanku selalu kembali kepada adikku Si
Madrim jika bertemu denganmu" ucap Salya.
Melihat Nakula dan Sadewa berpakaian putih – putih, Salya sedikit terkesiap.
Melihat Nakula dan Sadewa berpakaian putih – putih, Salya sedikit terkesiap.
"Mengapa kalian berpakaian putih-putih seperti ini di medan perang?” tanya Prabu Salya
menyelidik.
”Kanda Prabu Kresna yang telah
memerintahkan kami” sahut Nakula dan Sadewa lirih.
Terdiam Salya mendengar jawaban
Nakula-Sadewa. Matanya menerawang jauh.
”Hmm…rupanya Batara Wisnu
(*) telah mengingatkan akan janjiku” gumam Salya.
”Anakku Nakula maupun Sadewa,
aku beritahu bahwa dengan engkau berdua berpakaian putih – putih seperti ini,
Kakakmu Sri Kresna memberi pesan pada diriku” ujar Sang Salya.
“ Ini berarti telah sampai waktu
bagiku untuk menepati janji kepada Resi Bagaspati, ayah mertuaku. Warna
baju dan selendang putih yang kalian berdua kenakan, adalah warna kesukaan Ramanda Bagaspati........” ucap Prabu Salya dengan parau.
“ Ya, memang sudah waktunya aku
kembalikan Chandabhirawa kepada yang lebih berhak” tambah Prabu Salya.
“ Nakula dan Sadewa, panggillah
si Yudhistira untuk menghadapiku. Aku merasa hanya dia yang bisa aku titipi
Chandabhirawa.......”. Sejenak Sang Salya terdiam.
“……..dan sepeninggalku nanti,
aku titipkan Kerajaan Mandaraka kepada kalian berdua. Pimpinlah Negeri
Mandaraka dengan baik. Tegakkan keadilan, dan ayomi kehidupan rakyat di Mandaraka”, berkata
demikian, jatuhlah cucuran tangis Salya maupun Nakula – Sadewa.
Singkat cerita majulah
Yudhistira ke peperangan, suatu hal yang jarang terjadi. Meskipun di masa
mudanya Yudhistira seorang ksatria tangguh yang tak kalah jago dari
adik-adiknya seperti Bhima dan Arjuna, tetapi minatnya tumbuh lebih besar
kepada ilmu kenegaraan dan kebijaksanaan.
Melihat Yudhistira ada di medan
perang, raksasa – raksasa Chandabhirawa menghilang satu demi satu sambil
berteriak:
”aku ikut, Bapak..aku kembali
kepadamu, Bapak!”….
Konon, melihat sang Yudhistira,
raksasa – raksasa bajang Chandabhirawa seakan melihat Resi Bagaspati
melambaikan tangan, mengajak raksasa-raksasa kerdil itu mengikuti raga
Yudhistira.
Salya pun tersenyum, lalu
berkata;
”Yudhistira, ucap trimakasih
engkau bersedia datang memenuhi permintaanku...
Ketahuilah, Ngger.... aji
Chandrabhirawa telah aku relakan untuk engkau warisi. Dengan begitu tertebus
pula dosaku kepada Ramanda Bagaspati. Beliau dan diriku adalah saudara di
kehidupan yang lalu….
aku merupakan titisan Sumantri, sedang Ramanda Bagaspati adalah penjelmaan Sukrasana, saudaraku. Telah lama aku menantikan pertemuan kembali dengannya”
aku merupakan titisan Sumantri, sedang Ramanda Bagaspati adalah penjelmaan Sukrasana, saudaraku. Telah lama aku menantikan pertemuan kembali dengannya”
“Rupanya di peperangan ini, sukma Sukrasana
datang untuk menjemputku. Gembira hatiku karenanya. Dengan kematianku pula, engkau
dan saudaramu akan dapat memenangkan perang ini lebih mudah. Angkara murka
Kurawa, memang harus segera terbasmi. Karena itu lemparkan tombakmu Yudhistira,
aku sudah siap” tegas Sang Salya mantap tanpa ragu - ragu.
Menitik air mata Sang Yudhistira
mendengar penjelasan itu. Sejurus kemudian sulung Pandawa itu mengambil tombak
pusaka, dan dengan satu lemparan, gugurlah sang Salya di Kurukhsetra.
Catatan:
- Cerita Narasoma dan
Salya Gugur di tulisan ini banyak dipengaruhi Versi Jawa yang tidak diketemukan
di versi aslinya, Mahabharata versi Wyasa. Pujangga-pujangga di Nusantara telah
banyak menggubah cerita-cerita yang ada, agar lebih menarik dan sesuai dengan
masyarakat lokal. Jika dibawakan oleh seorang dalang yang berpengalaman, Kisah
Salya Gugur akan sanggup membuat penonton bungkam serta berkaca – kaca,
terutama di bagian akhir cerita
- Sumantri dan
Sukrasana adalah putra Begawan Swandagni di Epos 'Arjunasasrabahu'. Sumantri di
masa hidupnya melakukan kesalahan yang tidak ia sengaja, menyebabkan Sukrasana,
saudaranya, terbunuh. Karena rasa cinta yang besar kepada saudaranya itu,
kematian Sukrasana sangat disesali Sumantri sepanjang hidupnya. Diilhami kepercayaan pada masa itu, diceritakan bahwa penjelmaan
sebagai Narasoma (Salya) merupakan masa penebusan dosa bagi Sumantri. Sebagai referensi dapat dibaca pada Kisah "Sumantri dan Sukrasana".
- (*) Sri Kresna dalam Wiracarita Mahabharata merupakan representasi dari Sang Hyang Wisnu yang turun ke dunia untuk memadamkan kejahatan dari Para Kurawa.
Monday, December 20, 2010
Salya Gugur I: Narasoma
Cerita Narasoma dipetik dari
Epik Mahabharata yang banyak dipengaruhi versi Pewayangan Nusantara. Versi asli Mahabharata
menceritakan adanya nama Salya, seorang raja dari daerah Madras, India. Saat akan pecah Perang
Bharatayudha, Salya berkeinginan memberikan dukungan kepada Pandawa, akan tetapi di tengah jalan
tertipu bujuk rayu Duryudana. Hingga akhirnya dalam Perang Bharatyudha di Kurukhsetra, Salya tergabung dengan kubu Kurawa dari
Hastinapura.
Versi Nusantara menceritakan kehidupan Sri Salya secara lebih panjang lebar. Salya saat masih muda bernama Narasoma,
Pangeran Mahkota dari kerajaan Mandaraka. Saat beranjak dewasa, Narasoma didesak
oleh ayahnya, Prabu Mandrapati (ada juga yang menyebut Prabu Mandradipa) agar
segera mencari pasangan hidup, sehingga tahta Mandaraka dapat segera dilakukan
suksesi. Prabu Mandrapati bermaksud untuk lengser keprabon,
madheg pinandhita (suatu cerita yang diambil kebiasaan dari raja – raja
Indonesia di masa Hindu).
Narasoma masygul, enggan untuk
memenuhi keinginan Sang Ramanda. Ia merasa belum cukup umur dan masih
bercita-cita mencari ilmu dari berbagai guru yang ada di pertapaan – pertapaan
terpencil. Narasoma pun minggat dari istana saat tekanan untuk menikah dari
keluarga semakin kuat.
Di dalam perjalanan, Narasoma
bertemu pendeta sakti berwujud raksasa bernama Bagaspati. Pertemuan ini suatu
kebetulan, karena Bagaspati telah berjalan berhari-hari dengan maksud untuk
bertemu dengan Narasoma. Bagaspati diminta oleh anak perempuan tunggalnya untuk
dipertemukan dengan Narasoma. Konon, Narasoma telah membuatnya jatuh cinta
lewat mimpi-mimpi yang dialami setelah bertapa untuk mendapatkan jodoh.
Mendengar cerita ini, Narasoma menolak. Dia merasa enggan untuk harus menikahi
seorang raseksi (raksasa perempuan), meski itu anak seorang brahmana sakti.
Singkat kata terjadi perkelahian antara Narasoma dan Bagaspati, Narasoma
mengalami kekalahan. Dengan berat hati Narasoma menuruti Bagaspati untuk dibawa
ke pertapaannya di Argobelah. Sesampai di Argobelah, Narasoma kaget bukan
kepalang. Anak Bagaspati ternyata seorang putri yang jelita, bernama Pujawati.
Pujawati adalah anak perempuan Resi Bagaspati pemberian dari para dewa. Maka
berlangsunglah pernikahan antara Narasoma dan Pujawati disaksikan oleh penduduk
Argobelah.
Selang beberapa hari setelah
pernikahan, Narasoma sering terlihat termenung sendiri. Sebagai pendeta yang sidik wacana,
Bagaspati menangkap isi hati Narasoma. Maka dipanggillah sang menantu.
”Narasoma, aku berterimakasih engkau telah memenuhi keinginan si Pujawati, meski aku pun tahu engkau malu menganggap diriku sebagai ayah mertuamu’..demikian ucap sang Pendeta.
”Ah, tidak Bapak, aku tidak
berpikir sedemikian” jawab Narasoma.
”Jangan berbohong, Narasoma, aku
tahu benar isi hatimu” timpal Bagaspati. Narasoma tak bisa membantah, dia
memang merasa risih dengan adanya Bagaspati yang berwujud raksasa sebagai
mertuanya.
”Panggil si Pujawati kesini”,
sambung sang Pendeta.
Datanglah Pujawati ke ruang itu.
”Narasoma, untuk melapangkan
kepulanganmu ke Mandaraka, aku akan moksa. Sudah cukup dharmaku di madyapada
ini. Aku ingin kembali ke puncak dewa-dewa. Sebagai wasiat, aku titip anakku si
Pujawati” demikian pesan Resi Bagaspati.
“ Aku akan wariskan pula ajian
Chandabhirawa, yang bisa engkau pakai sebagai senjata andalanmu. Namun engkau
harus berhati – hati, Narasoma, jangan sampai engkau bentrok dengan orang
dengan sifat seperti aku. Ajian itu tidak akan mempan menghadapinya. Aku
seorang berdarah putih (*seorang penyabar),
berhati-hatilah dengan orang seperti itu. Jika engkau tidak bisa mengelak untuk
bertempur dengannya, artinya itu saat dharma-mu telah usai...” tambah Sang
Bagaspati.
Mendengar pesan dari Sang Resi,
Narasoma maupun Pujawati berlinang air mata. Terutama bagi Pujawati, kata –
kata Sang Resi bagai kalimat perpisahan yang memilukan. Sang Bagaspati
tersenyum melihat putri cantik kesayangannya itu.
“Pujawati, janganlah engkau
menangis. Temani hidup Narasoma dengan setia. Suatu hari kelak,
Narasoma akan jadi raja besar dan ternama……sebagai penanda atas restu dan doaku
untukmu, ubahlah namamu menjadi Setyawati saat menjadi permaisuri nanti” pesan
dari Resi Bagaspati.
Tak lama kemudian, Sang Resi
mengambil sikap sempurna, dan hilang dari pandangan Narasoma maupun
Pujawati. Sang Resi telah mangkat.
Singkat cerita, Narasoma kembali
ke Mandaraka, menjadi raja bergelar Sri Maharaja Salya. Konon, sifat darah
putih yang dimaksud Bagaspati ada pada diri Yudhistira, seorang pangeran
keturunan Bharata/Kuru yang sabar dan bijaksana. Dalam perang Bharatayudha,
Salya gugur oleh Yudhistira.
[bersambung] : Salya Gugur II:
Salya Parwa (Bharatayudha)
Sunday, November 21, 2010
Two Young Fighters
In one annual wrestling competition held during pagan Arabian time, emerged two young fighters attracting attention of the crowd. Both were at the similar age, similar appearance of strong and determined, shaped by the wild desert life. From a distance, both looked a lot alike. The first boy was taller with broad shoulder and sharp eyes. The second was a bit shorter, and though having small scar on his left cheek, was apparently charming.
Along the course of the tournament, both dominated the stage, till they had to meet in one decisive match. As everyone expected, the match was tight, until in one occasion, the taller boy was knocked down and badly injured. A cracking sound when the taller boy struck the ground indicated a broken bone in one of his legs. The shorter boy looked at his opponent in horror, since he never meant to hurt that much. Immediately he rushed to help and carried the taller boy back to his tent, without noticing much to the triumph ceremony he would get. Actually, the boys had known for each other since their childhood, and the event that day brought their relationship even closer. As the time went by, the taller boy healed and came back to fight, gaining lots of victories before turning his interest to merchant, while the shorter boy had more interest in the art of desert warfare.
At that time, no one thought that those boys would grow as prominent figures in history. In the later days, the taller boy would be remembered as a prolific administrator in a young emerging civilization. In his time, the nation he led sparked dazzling light much brighter than those of the two great empires existed in the ancient worlds, the Persian and the Eastern-Roman Byzantine. The shorter boy was well-known as one of the finest military generals the eastern world has ever possessed. Islamic tradition praises both figures highly as the title of ‘may God be pleased with him’, always follows every time their names are mentioned.
The taller boy was Umar Ibn Al Khattab, and the shorter boy was Khalid Ibn Al-Walid.
Along the course of the tournament, both dominated the stage, till they had to meet in one decisive match. As everyone expected, the match was tight, until in one occasion, the taller boy was knocked down and badly injured. A cracking sound when the taller boy struck the ground indicated a broken bone in one of his legs. The shorter boy looked at his opponent in horror, since he never meant to hurt that much. Immediately he rushed to help and carried the taller boy back to his tent, without noticing much to the triumph ceremony he would get. Actually, the boys had known for each other since their childhood, and the event that day brought their relationship even closer. As the time went by, the taller boy healed and came back to fight, gaining lots of victories before turning his interest to merchant, while the shorter boy had more interest in the art of desert warfare.
At that time, no one thought that those boys would grow as prominent figures in history. In the later days, the taller boy would be remembered as a prolific administrator in a young emerging civilization. In his time, the nation he led sparked dazzling light much brighter than those of the two great empires existed in the ancient worlds, the Persian and the Eastern-Roman Byzantine. The shorter boy was well-known as one of the finest military generals the eastern world has ever possessed. Islamic tradition praises both figures highly as the title of ‘may God be pleased with him’, always follows every time their names are mentioned.
The taller boy was Umar Ibn Al Khattab, and the shorter boy was Khalid Ibn Al-Walid.
Friday, November 19, 2010
Sriwijaya, Past and Forgotten Glory
“swasti sri sakrawarsatita 605 ekadasi su-klapaksa wulan waisaka dapunta hyang najik di,samwa mangalap siddhayatra di saptami suklapaksa. Wulan jyetha dapunta hyang marlepas dari minanga,……sriwijaya jaya siddhayatra subhiksa”
[Joyful in the year of 605 the day of eleven of the bright month of Waisaka, Dapunta Hyang boarded on the boat to travel on the day of seven of the bright month of Jyestha, Dapunta Hyang departed from Minanga (Tamwar(n))…Sriwijaya performed a perfect victorious journey..]
*excerption of the Kedukan Bukit inscription 605 Caka / 683 AD, translated by Prof Slamet Muljana (1960)
Kedukan Bukit inscription was often cited by our history teachers during high school classes to describe a cheery festival in Sriwijaya time. That was the time when a powerful maritime empire based in Sumatra roared a very thunderous sound in the South East Asia circumference. Sriwijaya,simply means ‘splendid victory’, a name reflecting plentiful achievements the empire has accomplished for about 600 years of existence from 7th- 13th AD. During her finest hours, Sriwijaya stretched her wings from Sumatra and Java to the Malaysian Peninsula, some parts of the Philippines, Thailand and Cambodia. Some evidences even show that the atmosphere of the empire might reach even further, at distant range across the high seas to Sri Lanka and west coast of Africa.
There are no certain records the time Sriwijaya started to organize as civilization, though experts commonly predict that the existence has established as early as 600 AD. The chronicle of the T’ang dynasty recorded that Sriwijaya envoy had arrived at T’ang capital of Chang-an, modern day of Xian, in 670s. Sriwijaya reached the apogee when Syailendra family ascended to the elite of the empire, unifying Sriwijaya at Sumatra and Mataram in Java under one administration in 800s. Prosperity and richness were manifested into gigantic Buddhist temple known in the later day as Candi Borobudur, established at the time of Shri Samaratungga. The temple of Borobudur with its massive structure probably becomes the most grandiose building has ever been built by Indonesians. Under Syailendra ruling line, Sriwijaya established strong alliance with southern Indian kingdoms such as Chola and Pala. That explaines the reason why the name of Syailendra princes, like Dharanindra (believed to be the titular name of Rakai Panunggalan) and Balaputradewa, were so much well-known in India that the names (of the Syailendras) had appeared in several Indian inscriptions. A strong relationship was also developed with Chinese rulers as it had been evidenced from cultural and religious remnants found and documented in Chinese journals. Sriwijaya began to fade in the mid of 13th century as a result of repeated raid of alien forces and inability to maintain agricultural development rate to feed such a large territory. By the last quarter of 14th century, Sriwijaya was completely dissolved and transformed into smaller kingdoms or [Islamic] sultanates.
At this moment, Sriwijaya seems to be too far to reach by our memories. It is true Sriwijaya name has been immortalized as the name of streets or companies, but it does not frequently go beyond that. Spirits and dedications as the most essential parts from the olden days prove to have long gone from our hearts. The endless chaotic of national life may become strong evidence to the lost of those features. Glorious life our ancestors have achieved seems to be difficult to revive by our modern generation due to our failure to inherit those legacies. The closest, and maybe the easiest we can do these days, probably is just to remember the name, the story and the glory surround it.
Remembering Sriwijaya or any other ancient kingdoms maybe will not give much direct influence for the current national life. However the efforts to appreciate, and more importantly succeed achievements obtained by our ancestors are certainly very worthwhile to carry out, especially in preserving our current decaying national pride. If the expectation to be too much, maybe we just have to keep in mind that once in our grandparents’ backyard, there was a glowing social order encompassing a vast area and time, such as the one has been performed brilliantly by Sriwijaya, in her time.
[Joyful in the year of 605 the day of eleven of the bright month of Waisaka, Dapunta Hyang boarded on the boat to travel on the day of seven of the bright month of Jyestha, Dapunta Hyang departed from Minanga (Tamwar(n))…Sriwijaya performed a perfect victorious journey..]
*excerption of the Kedukan Bukit inscription 605 Caka / 683 AD, translated by Prof Slamet Muljana (1960)
Kedukan Bukit inscription was often cited by our history teachers during high school classes to describe a cheery festival in Sriwijaya time. That was the time when a powerful maritime empire based in Sumatra roared a very thunderous sound in the South East Asia circumference. Sriwijaya,simply means ‘splendid victory’, a name reflecting plentiful achievements the empire has accomplished for about 600 years of existence from 7th- 13th AD. During her finest hours, Sriwijaya stretched her wings from Sumatra and Java to the Malaysian Peninsula, some parts of the Philippines, Thailand and Cambodia. Some evidences even show that the atmosphere of the empire might reach even further, at distant range across the high seas to Sri Lanka and west coast of Africa.
There are no certain records the time Sriwijaya started to organize as civilization, though experts commonly predict that the existence has established as early as 600 AD. The chronicle of the T’ang dynasty recorded that Sriwijaya envoy had arrived at T’ang capital of Chang-an, modern day of Xian, in 670s. Sriwijaya reached the apogee when Syailendra family ascended to the elite of the empire, unifying Sriwijaya at Sumatra and Mataram in Java under one administration in 800s. Prosperity and richness were manifested into gigantic Buddhist temple known in the later day as Candi Borobudur, established at the time of Shri Samaratungga. The temple of Borobudur with its massive structure probably becomes the most grandiose building has ever been built by Indonesians. Under Syailendra ruling line, Sriwijaya established strong alliance with southern Indian kingdoms such as Chola and Pala. That explaines the reason why the name of Syailendra princes, like Dharanindra (believed to be the titular name of Rakai Panunggalan) and Balaputradewa, were so much well-known in India that the names (of the Syailendras) had appeared in several Indian inscriptions. A strong relationship was also developed with Chinese rulers as it had been evidenced from cultural and religious remnants found and documented in Chinese journals. Sriwijaya began to fade in the mid of 13th century as a result of repeated raid of alien forces and inability to maintain agricultural development rate to feed such a large territory. By the last quarter of 14th century, Sriwijaya was completely dissolved and transformed into smaller kingdoms or [Islamic] sultanates.
At this moment, Sriwijaya seems to be too far to reach by our memories. It is true Sriwijaya name has been immortalized as the name of streets or companies, but it does not frequently go beyond that. Spirits and dedications as the most essential parts from the olden days prove to have long gone from our hearts. The endless chaotic of national life may become strong evidence to the lost of those features. Glorious life our ancestors have achieved seems to be difficult to revive by our modern generation due to our failure to inherit those legacies. The closest, and maybe the easiest we can do these days, probably is just to remember the name, the story and the glory surround it.
Remembering Sriwijaya or any other ancient kingdoms maybe will not give much direct influence for the current national life. However the efforts to appreciate, and more importantly succeed achievements obtained by our ancestors are certainly very worthwhile to carry out, especially in preserving our current decaying national pride. If the expectation to be too much, maybe we just have to keep in mind that once in our grandparents’ backyard, there was a glowing social order encompassing a vast area and time, such as the one has been performed brilliantly by Sriwijaya, in her time.
Sunday, September 5, 2010
Kikis Tunggarana
Kisah 'Kikis Tunggarana'
merupakan salah satu babakan dari kisah Mahabharata versi Indonesia, bercerita
tentang konflik di Tunggarana, suatu daerah subur diantara Pringgadhani dan
Trajutrisna. Secara hukum, sebenarnya wilayah Tunggarana berada di Trajutrisna,
wilayah yang dipimpin Prabu Bomanarakasura, putra Prabu Krishna di Dwarawati.
Tetapi alasan historis dan traumatis masa lalu, membuat penguasa Tunggarana
berkeinginan untuk bergabung ke Pringgadhani, wilayah berdaulat di bawah kuasa
Prabu Gatotkaca.
Awalnya, Gatotkaca enggan
untuk meluluskan keinginan rakyat Tunggarana, tetapi atas desakan penduduk
Tunggarana, Gatotkaca memberanikan diri untuk melakukan aksi diplomatik dalam
menyelesaikan masalah perbatasan tersebut. Gatotkaca sejatinya tahu persis,
bahwa usahanya akan mendapat kesulitan besar karena berkonflik dengan
Trajutrisna berarti berhadapan juga dengan dinasti Yadawa, yang notabene
merupakan keluarga berpengaruh di kisah Mahabharata. Di dalam keluarga Yadawa
bercokol tokoh-tokoh kesohor seperti Shri Krishna, Shri Baladewa, Satyaki
ataupun nenek Gatotkaca sendiri, Dewi Kunti. Belum lagi 'seret'nya dukungan
dari keluarga Pandawa, karena ayah beliau sendiri, Sang Bimasena juga tidak
begitu menyetujui niatan Gatotkaca. Tetapi, tekad untuk memperjuangakan hak
azasi kawula di Tunggarana telah membulat di dada Gatotkaca. Lewat perjuangan
diplomatik, serta sedikit show of force
di perbatasan, Gatotkaca memenangkan Tunggarana. Kemenangan dari hasil brilian
kombinasi perjuangan fisik dan diplomatik, serta tentunya juga adanya dukungan
dari Shri Krishna yang dapat di manfaatkan dengan baik olehnya di akhir-akhir
cerita. Dalam pentas pewayangan tentunya tidak sesederhana tulisan ini,
Gatotkaca bahkan sempat terluka parah saat duel tanding dengan Bomanarakasura
yang terkenal sakti saat militer Trajutisna dan Pringgadhani terlibat bentrok.
'Kikis Tunggarana'
sejatinya hanya kisah perlambang dari sifat tertindas dari hak azasi manusia.
Tunggarana dalam kehidupan nyata bisa berarti Kashmir, Kurdi, Ambalat, Kinibalu,
korban Lapindo, TKI yang teraniaya di negeri orang, atau kehormatan nasional
yang dihinakan. Sikap yang tepat untuk menyikapinya adalah melalui perjuangan
diplomatik jauh dari kekerasan, meski sesekali diperlukan suatu gertakan yang
nyata untuk menunjukkan eksistensi perjuangan. Perjuangan secara fisik saja
akan berarti kecil jika tidak didukung strategi yang rapi. Strategi serta sikap
terlalu rendah hati saja tentunya akan sulit mendapat hasil karena fihak
oposisi hanya akan menganggap sepi permasalahan yang ada. 'If you are too benevolence, you will be easily harassed'
demikian jargon dalam dunia modern. Meski tentunya untuk implementasi konsep
tersebut tidaklah mudah, setidaknya contoh yang diberikan Gatotkaca dari kisah
tradisional dapat selalu menjadi inspirasi dalam membongkar ancaman, tantangan
di bidang hak azasi ataupun kedaulatan bangsa.
Subscribe to:
Posts (Atom)