Saturday, October 11, 2014

Berkunjung ke Jalan Lumumba



Surabaya boleh jadi hanya satu dari sedikit saja dari kota – kota di tanah air yang memiliki nama jalan dari nama tokoh internasional. Di Bandung dapat ditemui Jalan Pasteur, Eijkman maupun Currie. Kalau di Medan ada Jalan Nehru, sementara di Surabaya terdapat Jalan Lumumba. Selain di Surabaya, nama Lumumba juga pernah menjadi nama jalan di Jakarta (sekarang jadi nama Jalan Angkasa). Di Kota Pahlawan, Jalan Lumumba terletak di daerah Ngagel, satu areal dengan instalasi PDAM Surabaya di tepian Sungai Surabaya dan Sungai Jagir. Nama Lumumba memang unik, terutama terkait dengan serba-serbi si pemilik nama yang bersangkutan.

Jalan Lumumba mengabadikan nama Patrice Emery Lumumba, seorang pejuang kemerdekaan dari Kongo, Afrika Tengah. Sebagaimana lazim para tokoh penggerak Asia-Afrika pada dekade 1960 - an, Lumumba adalah seorang anti-kolonialisme. Dedikasi Lumumba sempat melambungkan karir politiknya untuk menjabat sebagai Perdana Menteri di Republik Kongo – Leopoldville* pada tahun 1960. Waktu itu, Kongo baru saja menyatakan kemerdekaan dari Kerajaan Belgia. Tetapi impian Lumumba membangun Afrika yang modern kandas terlalu dini. Konflik internal antar pejabat elit, manuver pihak militer (pimpinan Kolonel Joseph Mobutu), serta intervensi pihak asing meruntuhkan pemerintahan muda di Kongo yang baru berusia 12 minggu. Lumumba ditangkap sebagai tahanan politik, diseret di depan umum dengan tali tampar layaknya pesakitan kelas kecoak, untuk kemudian dieksekusi mati pada malam hari tanggal 17 Januari 1961. Jasad Lumumba dicabik-cabik oleh regu tembak pimpinan opsir Belgia Kapten Julien Gat, serta dihancurkan dengan cairan pekat asam sulfat sampai nyaris tak bersisa.

Kematian tragis menjadikan riwayat post-mortem seorang Lumumba penuh warna. Di Dunia Ketiga, Lumumba dipuja sebagai pahlawan, simbol perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme. Tentu saja menjadi hal sebaliknya, jika sudut pandang diambil dari Dunia Barat. Bagi Barat, Lumumba tak lebih dianggap sebagai seorang pemimpi berat dan tak kenal adat dalam bersikap. Barat memang sempat dibuat sewot oleh gagasan Lumumba untuk menggalang Pan – Afrika. Gagasan itu mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk dari Soviet Rusia. Akibatnya, seperti banyak tokoh pergerakan Asia-Afrika semasa itu, Lumumba yang memiliki pandangan nasionalis - sosialis sering dituding sebagai simpatisan paham komunis.

Hitam-putih nama Lumumba terjadi pula di negeri asalnya yakni di Kongo, atau pada satu masa bernama Zaire. Sempat dianggap sebagai musuh negara, Lumumba mendapatkan rehabilitasi nama baik serta gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1966 dari penerus, sekaligus mantan seteru politiknya, Joseph Mobutu. Di belakang hari, Joseph Mobutu dikenal pula sebagai Mobutu Sese Seko, seorang pemimpin Afrika yang warna hidupnya sangat beragam. Kepopuleran turut menggoda Pemerintah Kerajaan Belgia untuk ikut mewarnai cerita anumerta Patrice Lumumba. Pada tahun 2002, Pemerintah Belgia secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Kongo atas keterlibatan mereka dalam kematian Lumumba di luar batas wajar kemanusiaan.

Di Surabaya, keunikan nama Lumumba masih tergambar. Meskipun terdengar sangat asing, nama Lumumba masih dipergunakan untuk penanda satu sudut kecil di kota, serta menjadi pelengkap isian kartu penduduk dari sebagian warga. Tidak begitu jelas, apa yang menjadi sebab kelestarian nama itu di Surabaya. Mungkin saja, semuanya karena terdorong adanya keinginan untuk memelihara sikap gigih Lumumba dalam memerangi ketidakadilan maupun kemelaratan. Sebab memang kebetulan, ketidakadilan dan kemelaratan masih sering nimbrung dalam keseharian penduduk Surabaya dan sekitarnya. Atau mungkin juga, detak kencang kehidupan di Surabaya telah membuat banyak orang tak lagi sempat peduli mengenai urusan kecil, seperti halnya nama jalan ataupun gang. Sementara itu secara bersamaan, lalu-lalang berbagai kendaraan di setiap harinya, telah menyapu hilang memori dari sebuah nama, yang dulunya berkaitan erat dengan pergolakan suatu bangsa, untuk merdeka, berdaulat maupun bermartabat.
 
Catatan: 
1. Saat ini, Lumumba jadi nama kampung di Surabaya (Lumumba Dalam dan Lumuba Buntu). Jalan Lumumba telah berganti nama menjadi Jalan Ngagel.
2.  Republik Kongo Leopoldville sempat berganti nama menjadi Zaire. Pada tahun 1974, atas prakarsa Presiden Mobutu Sese Seko, terselenggara pertanfinga tinju dunia kelas berat, antara Muhammad Ali melawan George Foreman. Menurut riwayat, pendanaan pertandingan tinju itu memakan sebagian besar dana pemerintahan di Zaire. Saat ini Zaire bernama Republik Demokrasi Kongo, berhaluan komunis. 
 




Saturday, July 5, 2014

Walisanga dan Perkembangan Islam di Indonesia



Pendapat umum memperkirakan Islam mulai memasuki Nusantara pada sekitar Abad ke-10-11M, dibawa oleh para pedagang dari Timur Tengah serta Gujarat, India. Anggapan ini berdasarkan pada beberapa penemuan arkeologi berupa pemakaman atau perkampungan bercorak muslim yang umumnya tertanggal pada kurun waktu tersebut. Sebenarnya, ajaran serta budaya Islam sudah diperkenalkan kepada penduduk di Nusantara jauh sebelum itu, yakni pada sekitar Abad ke-7 Masehi. Jika dirunut berdasarkan tarikh Islam, masa yang dimaksud berlangsung pada periode kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Syria.

Menurut catatan lama, pada kurun waktu tahun 600-an M, pedagang – pedagang Muslim dari Timur-Tengah sudah banyak melakukan kunjungan, sebagian kemudian menetap di pelabuhan-pelabuhan penting perairan selatan; semacam di Semenanjung Malaka, Sumatera ataupun Pesisir Utara Jawa. Para sejarahwan umumnya sepakat, sejak periode itu pula telah terbentuk hubungan ekonomi yang erat diantara para pedagang internasional; dalam hal ini pedagang dari Tiongkok, pedagang Muslim dari Persia, Timur-Tengah maupun India, serta pedagang-pedagang dari Nusantara; semacam dari Sriwijaya, Kalingga serta Bugis. Lewat interaksi perdagangan semacam itu, prinsip-prinsip Islam mulai diperkenalkan kepada masyarakat di Nusantara.

Tetapi fakta sejarah menunjukkan, Islam pada masa-masa tersebut tidak begitu berhasil merebut hati masyarakat di Nusantara. Simak saja tulisan Marcopolo bertarikh 1292M saat penjelajah Italia itu singgah di Perlak, Aceh dalam perjalanannya pulang dari Tiongkok ke Eropa. Marcopolo menceritakan bahwa sebagian besar masyarakat bumiputra di Sumatra menganut kepercayaan animisme atau dinamisme. Islam hanya dianut sebagian kecil masyarakat pendatang dari Arabia, Persia dan Tiongkok saja. Laporan yang senada dengan memoir Marcopolo dapat juga dilihat dari dokumen Ekspedisi Armada Cheng Ho yang datang ke Jawa pertama kalinya pada tahun 1405M. Kondisi budaya serta kepercayaan tersebut masih tidak banyak berubah saat Cheng Ho mengunjungi kembali Nusantara pada ekspedisi yang terakhir (pelayaran ke-7), yaitu pada tahun 1430M. Ma Huan yang menjadi juru tulis Laksamana Cheng Ho pada pelayaran tersebut, menggambarkan dalam catatannya mengenai pengaruh agama Hindu, Budha serta kepercayaan animisme dan dinamisme yang cukup dominan pada struktur sosial masyarakat Indonesia. Ini artinya dari sekitar tahun 600-an hingga 1400-an tarikh Masehi, Islam memang bukan merupakan kepercayaan utama bagi masyarakat di kepulauan Indonesia dan sekitarnya.

Tetapi tendensi  ini mengalami perubahan dramatis pada periode 1500-an. Seorang ahli farmasi Portugis, Tome Pires, menuliskan pengalamannya dalam menyusuri jalur perdagangan rempah-rempah di perairan Indonesia masa silam. Dari catatan Pires yang kemudian dibukukan dalam ‘Suma Oriental’, diketahui bahwa pada kuartal pertama 1500-an, Islam sudah secara luas dianut masyarakat Sumatra dan Jawa, terutama pada daerah-daerah pantai. Tulisan Pires diperkuat oleh keterangan para pelaut Eropa dan Tiongkok yang pernah singgah di Jawa dan Sumatera pada periode yang sama. Masih menurut catatan para penjelajah Eropa, kepercayaan lama di Nusantara, yakni Hindu-Budha masih dapat ditemui, umumnya terdapat di daerah pedalaman dengan jumlah penganut yang tidak terlalu banyak. Dokumen-dokumen para pelaut asing juga memberitakan bahwa Islam pada periode 1500-an sudah dianut pula oleh masyarakat di Indonesia Timur semacam di Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Sebagai catatan, nama Maluku sendiri merupakan adaptasi dari terminologi Arab, ‘Al-Mulk’ yang berarti kerajaan, menunjuk kepada banyaknya kerajaan bercorak Islam yang timbul dimasa itu di Perairan Maluku, misalnya saja Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, Hitu, maupun Bacan.

Perubahan sangat cepat dalam sosio-kultural masyarakat di Nusantara pada masa tersebut banyak menarik perhatian para cendekiawan. Dari catatan sebelumya dapat diketahui Islam sangatlah sulit untuk diterima oleh penduduk bumiputra Nusantara. Sebagaimana telah dibahas di atas bahwa hampir sekitar 800 tahun Islam tidak dapat menarik perhatian rakyat banyak. Tetapi kemudian, dari bentang waktu  yang kurang lebih hanya sekitar 70 tahun saja, Islam mampu menyebar secara merata, terutama di pulau-pulau besar di Indonesia yang notabene merupakan pusat-pusat kebudayaan Asia Tenggara.

Semua adalah berkat usaha para penyebar Islam yang datang ke Indonesia pada awal abad ke-15M. Dari catatan sejarah, di Indonesia bermunculan para pemuka muslim yang memiliki garis keturunan dari Champa maupun Asia Tengah. Generasi yang dimaksud kemudian dikenal sebagai Generasi Walisanga atau Wali Sembilan. Dari para pemuka agama Walisanga, aktifitas Islam di Indonesia mengalami perkembangan pesat.

Ada beberapa faktor yang menjadikan penyebaran Islam oleh Walisanga dapat secara efektif merasuk ke sanubari masyarakat. Menurut catatan penelitian dari Agus Sunyoto, seorang sejarahwan dari Universitas Brawijaya Malang, faktor yang penting dari fenomena tersebut adalah kemampuan dari para pemuka agama pada masa itu dalam memahami kultural kepercayaan masyarakat setempat. Bahwa jauh sebelum kepercayaan Hindu dan Budha menjadi kepercayaan utama, di Kepulauan Indonesia telah berkembang ajaran kepercayaan kepada kekuatan Yang Maha Besar yakni Sang Maha Tunggal. Ajaran kuno menyebutnya Kekuatan Agung itu sebagai Sang Hyang Taya. Taya dalam bahasa Kawi berarti abstrak, menggambarkan adanya Kekuatan Suci yang sama sekali tidak dapat dijangkau atau digambarkan oleh pancaindra manusia. Kepercayaan ini akan tetapi, berwujud kepada penghormatan kepada benda-benda mati alamiah (bukan arca/patung) seperti batu, pohon atau air terjun yang dianggap memiliki kekuatan gaib, anugrah dari Sang Hyang Taya. Ajaran kuno inilah yang dianggap oleh orang-orang Eropa sebagai ajaran dinamisme. Padahal sesungguhnya, dinamisme yang dianut di Nusantara adalah bermuara kepada pemujaan kepada kekuatan Sang Esa/Tunggal/Taya. Kepercayaan kepada Sang Tunggal tentunya selaras dengan prinsip keislaman yang monotheis. Prinsip monotheisme dari kepercayaan lama akhirnya dapat diadaptasi oleh generasi Walisanga untuk memperkenalkan ajaran Islam yang juga berprinsip sebagai ajaran monotheisme.

Pendekatan melalui ajaran kuno nusantara yang dilakukan generasi Walisanga mampu mempercepat pemahaman penduduk pribumi dalam mengenal ajaran agama Islam. Generasi Walisanga mempertahankan istilah-istilah, serta praktik-praktik keagamaan yang telah dikenal masyarakat lewat kepercayaan lama. Akan tetapi ruh dari istilah dan praktiknya kemudian berganti serta berisi ajaran keislaman. Misalnya saja untuk tempat beribadah, ajaran kuno menyebutnya ‘sanggar (pamujan)’, untuk kemudian diganti dengan istilah ‘langgar’ (mushalla). Struktur ‘langgar’ dan ‘sanggar’ amatlah mirip, dengan bentuk bangunan berbentuk persegi empat dari kayu. Hanya saja untuk ‘langgar’, bagian tembok berupa ruang kosong untuk mengagungkan Sang Hyang Taya/Tunggal sebagaimana pada ‘sanggar’ diakomodasi dalam bentuk mihrab di ujung bangunan, sebagai tempat imam  menghadap kearah kiblat di Makkatul Mukarromah.

Contoh lain misalnya praktik suci ajaran kuno ‘upawasa’, yang berisi ibadah menahan makan dan minum selama beberapa waktu. Generasi Walisanga kemudian mengadaptasi ibadah upawasa dengan istilah puasa, yang dalam Islam dijalankan secara wajib di bulan Ramadhan. Puasa yang dikenalkan tentunya melarang adanya puasa ngableng (terus-menerus tanpa berbuka selama beberapa hari), untuk kemudian ditradisikan berpuasa mulai fajar sampai maghrib, sesuai ajaran Islam.  Ibadah Puasa Senin-Kamis sebagai contoh pula, secara cepat diterima masyarakat karena praktik puasa hari ke-2 dan ke-5 dalam satu minggu telah bertahun-tahun hidup dimasa Pra-Islam Indonesia. Walisanga juga tidak bersikeras memakai istilah shaum/shiyam misalnya, meski hal tersebut merupakan istilah ‘resmi’ dalam kitab suci Al-Quran. Begitu pula ibadah menyembah kepada Sang Agung dinamakan sebagai ‘sembahyang’, atau ‘menyembah (kepada) Sang Hyang (Tunggal)’. Sesuai ajaran Islam, sembahyang yang diperkenalkan Walisanga berisi ibadah dengan kaifiat shalat yang lengkap sesuai petunjuk Al-Quran dan Sunnah untuk menyembah Allah SWT. Termasuk pula perubahan terhadap hikayat kuno semacam Mahabharata yang disisipi nilai keislaman, tembang-tembang dan syair dengan memakai bahasa kasusastraan tingkat tinggi. Isi tembang, kidung atau pujian pada waktu itu umumnya merupakan uraian dari ayat suci Al-Quran, maupun Hadits Nabi SAW. Masih banyak lagi contoh yang tentunya akan menyita tempat di tulisan yang sangat pendek ini. 

Salah satu fakta penting adalah para pemuka agama yang disebut Walisanga merupakan institusi yang cair serta tidak ekslusif. Istilah Walisanga atau Wali Sembilan sesungguhnya tidak selalu menggambarkan adanya sembilan orang yang kemudian berkumpul membentuk suatu organisasi keagamaan. Hanya kebetulan saja, ulama Walisanga, terutama yang ada di Jawa, kebanyakan masih satu kerabat sehingga timbul kesan bahwa nama Walisanga adalah lembaga formal dengan anggota tertentu. Walisanga adalah lebih tepat disebut suatu persatuan kekeluargaan, dimana didalamnya terdapat tokoh-tokoh dengan ilmu agama serta ilmu kehidupan yang mumpuni. Jumlah pemuka agama itu tentunya lebih dari sembilan orang, dan tersebar di seluruh wilayah nusantara. Di Jawa, sebutan Walisanga diadaptasi dari istilah Nawa Dewata, diambil dari konsep ajaran Hindu tentang adanya sembilan dewa utama, sebagai penguasa arah mata angin. Masyarakat Jawa waktu itu memberi istilah Walisanga untuk memudahkan pemahaman terhadap adanya figur-figur panutan pembawa ajaran yang baru dikenal.

Boleh dikatakan bahwa para Walisanga adalah cendekia muslim yang mampu menerjemahkan ajaran Islam dengan bahasa yang lebih dapat dipahami oleh masyarakat luas. Lewat pendekatan kultural, Islam di Indonesia mengalami kisah perjalanan yang amat berbeda dengan riwayat Islam di pusat kebudayaan kuno lain semacam di India. Pendekatan semacam itu mampu pula membuat jalinan antara para pembawa ajaran baru dengan masyarakat sekitar menjadi lebih akrab. Para susuhunan (sunan) yang hidup semasa Walisanga ditilik dari bukti sejarah adalah tokoh-tokoh yang dekat dengan rakyat, bijaksana serta mampu memberi pencerahan secara damai. Mereka bukanlah perkumpulan yang hidup mengisolasi diri dari masyarakat sekitar, bergaul hanya dengan kelompoknya sendiri, merasa diri paling suci dan shalih, ataupun kelompok yang bertindak dengan kekerasan, meski dengan dalih untuk ajaran suci agama Islam. Para susuhunan yang disebut Walisanga adalah pemuka Islam yang mampu melakukan praktik dari prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin, atau dalam terminologi Jawa kemudian disebut sebagai memayu hayuning bawana yang berarti memelihara kesejahteraan alam secara berimbang. Melalui metode tersebut, Islam akhirnya mampu menyentuh, serta tertanam di lubuk batin sebagian besar masyarakat Indonesia dan sekitarnya, hingga ratusan tahun lamanya.


Pustaka:
1.    Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, PT Mizan, Juli 2012.
2.    Tomé Pires, Armando Cortesão, Francisco Rodrigues, The Suma Oriental Of Tome Pires, Asian Educational Services, New Delhi 2005.
3.    MC Ricklefs, The History of Modern Indonesia Since C.1200, Palgrave Macmillan, Hampshire, UK, 2001.

Saturday, December 7, 2013

Pertempuran Perairan Mutiara Desember 1941: Kegagalan Sebuah Operasi Militer

Peristiwa penting terjadi pada Hari Minggu, tanggal 7 Desember 1941, saat Armada Kekaisaran Jepang melancarkan operasi militer kearah Pangkalan Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) di Perairan Mutiara, atau dikenal sebagai Pearl Harbor, Pulau Oahu, Hawaii. Sebanyak 353 pesawat tempur laut AL Jepang terbagi dalam dua gelombang, menjadi pelaku utama dalam agresi yang berlangsung sejak pukul 8.00 pagi waktu setempat, hingga sekitar 2.5 jam setelahnya. Hasilnya sangat spektakuler dan memuaskan bagi fihak penyerang. Serangan udara berhasil menghajar 19 kapal AS yang sedang bersandar di pangkalan, dengan 6 kapal utama berhasil ditenggelamkan. Tak kurang 188 pesawat tempur milik Dinas Udara AS juga berhasil dilumpuhkan, dan lebih dari 2000 personel AS kehilangan nyawa dalam serangan tersebut. Termasuk juga gudang-gudang senjata, lapangan terbang serta bengkel militer menjadi sasaran amuk pesawat-pesawat Jepang. Kemenangan di Pearl Harbor disambut penuh suka cita pihak militer Jepang. Keyakinan bahwa kekuatan negeri-negeri kulit putih di Asia dapat dilemahkan semakin menebal. Dan perwujudan adanya Kekaisaran Jepang yang membentang dari Semenanjung Kamchatka hingga Kepulauan Hindia di Laut Selatan bukanlah impian mengada-ada.

Dibalik keberhasilan misi AL Jepang tersebut, seorang Perwira AL Jepang justru terlihat tidak bergembira. Perwira yang tak lain adalah Isoroku Yamamoto, seorang laksamana (admiral) Pimpinan Tertinggi AL Jepang, sekaligus perancang skenario penyerangan ke Perairan Mutiara. Di benak Yamamoto, misi ke Hawaii merupakan serangan yang jauh dari sempurna, bahkan mungkin juga dapat dikatakan suatu kegagalan. Tak mengherankan saat Pimpinan AL Jepang melakukan ‘kanpai’ (toast) untuk merayakan kemenangan di Pearl Harbor, Yamamoto sama sekali tak berselera untuk minum sake kesukaannya. Yamamoto malah memilih menyendiri keluar dari kerumunan rekan-rekannya. Pikiran Yamamoto yang sibuk selama berbulan-bulan untuk mempersiapkan strategi menyerang Pearl Harbor, menjadi semakin kusut setelah operasi militer usai dilaksanakan.

Apa yang menjadikan Yamamoto muram cukup beralasan. Tujuan utama serangan ke Hawaii adalah melumpuhkan kekuatan Armada Amerika di Pasifik. Dan sebagai seorang yang berpikiran maju, Yamamoto tahu benar bahwa kekuatan utama dalam perang laut modern terletak pada kapal induk (carrier) yang mampu melontarkan puluhan sampai ratusan pesawat tempur untuk menjangkau sasaran dengan radius yang jauh. Karenanya Yamamoto berharap serangan mendadak ke Pearl Harbor selain dapat merusakkan kapal perang utama (battleship), dapatlah pula untuk memberangus kapal induk milik AS yang biasa mangkal disana. Tetapi, laporan dari Laksamana Chuichi Nagumo, pimpinan lapangan dari serbuan ke Pearl Harbor, memberitakan bahwa serangan Jepang tidak membawa korban dalam bentuk kapal induk AS. Inilah yang menjadikan Yamamoto kecewa setelah laporan hasil serangan Jepang memasuki meja kerjanya.

Kekecewaan Laksamana Yamamoto berasal pula dari tidak rapinya koordinasi yang dibangun antara dirinya sebagai mastermind serangan ke Pearl Harbor, dengan Laksamana Nagumo sebagai komandan operasional di lapangan. Secara personal, Yamamoto memang tidak terlalu yakin dengan Nagumo, seorang perwira senior dan sebenarnya cukup berpengalaman. Tetapi Nagumo tidak memiliki spesialisasi untuk bertempur dengan kapal induk. Sempat terbersit bahwa serbuan ke Hawaii dapat dilakukan perwira yang lebih sejalan dengan pikiran Yamamoto. Namun, Yamamoto pun mengerti bahwa tradisi hirarki kemiliteran Jepang tidak memungkinkan baginya untuk melakukan pemilihan personil sesuai dengan yang dia butuhkan. 

Kekecewaan itu menjadi semakin besar setelah Yamamoto mengetahui bahwa Nagumo sebenarnya memiliki informasi bahwa pada waktu operasi dilangsungkan, tak satupun kapal induk AS bakal ditemui di Hawaii. Sekitar enam jam sebelum penyerangan dimulai, Dinas Intelijen Jepang sudah memberitahu Nagumo mengenai kepastian tidak adanya Kapal Induk AS di Oahu. Tetapi Nagumo lebih tertarik pada satu sisi laporan yang menyatakan bahwa personil AS di Pearl Harbor dalam keadaan yang sangat santai. Pihak AS diberitakan tidak memiliki persiapan apapun untuk sebuah aksi militer. Nagumo berkeinginan untuk dapat lebih memanfaatkan unsur mendadak (surprise), kemudian menimbulkan kepanikan di pihak lawan, sehingga dapat menambah efektifitas suatu agresi. Tanpa berkonsultasi terlebih dulu kepada Yamamoto, Nagumo memutuskan untuk tetap melaksanakan rencana semula, yaitu menciptakan kerusakan kapal perang serta fasilitas di pangkalan utama, untuk dapat memberi pukulan moril kepada Armada AS di Pasifik. Tetapi, pendapat Nagumo ini di belakang hari terbukti overestimate. Banyak tulisan mengungkap jika saja Nagumo melaporkan bahwa tak akan ditemui satupun Kapal Induk AS di Pearl Harbor, besar kemungkinan Yamamoto akan mengajak Nagumo beserta para ajudannya, untuk berdiskusi ulang mengenai jalannya penyerangan.

Evaluasi yang dilakukan Yamamoto terhadap operasi di Pearl menemukan pula fakta tambahan tentang ketidaksempurnaan eksekusi. Daftar kerusakan fasilitas AS di Hawaii tidak menyertakan adanya instalasi pendukung pangkalan berupa tangki-tangki minyak, dok reparasi serta dok kapal selam sebagai korban sasaran pemboman. Sesuai instruksi awal Yamamoto, gudang minyak dan fasilitas pendukung berada pada skala prioritas sasaran yang amat rendah, karena yang menjadi fokus adalah kapal induk dan kapal perang utama AS. Jika tangki-tangki minyak dijatuhi bom, maka akan menimbulkan asap tebal yang mengganggu aksi para pilot Jepang saat menghadapi perlawanan pilot-pilot laut maupun artileri pertahanan udara milik AS. Tetapi sebenarnya dengan tidak adanya kapal induk, tugas pemboman menjadi lebih mudah, dan penghancuran fasilitas pendukung bisa naik prioritasnya sebagai target sasaran. Sebagaimana diketahui, kecuali kapal perang beserta instalasi utama, seluruh fasilitas pendukung pangkalan milik AS di Oahu, termasuk fasilitas intelijen tidak sempat ditengok pesawat pembom Jepang.

Sebenarnya para kapten skuadron terbang di armada Nagumo sempat mengusulkan adanya pengiriman misi udara tambahan untuk meledakkan fasilitas-fasilitas pendukung yang masih tersisa. Tetapi usulan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh para komandan operasional  penyerangan. Keputusan ini sekilas terdengar wajar mengingat rekor capaian misi udara Jepang hari itu sudah melampaui target yang direncanakan. Apalagi saat itu cuaca di Laut Pasifik mulai memburuk, hari yang sudah menjelang sore (pada masa itu, hanya AL Inggris yang berkemampuan untuk beroperasi dengan kapal induk di petang hari) dan meningkatnya kesigapan artileri anti-pesawat AS, menjadikan pengiriman misi udara tambahan akan sangat beresiko, serta dapat merusak suasana kemenangan yang sudah di tangan. Tetapi konsekuensi dari terlewatnya target pendukung pangkalan laut menjadikan tujuan utama serangan Jepang, yakni memaksa Armada AS keluar dari kancah panas di Pasifik belum tercapai. Selain Yamamoto, hanya sebagian saja para perwira di kemiliteran Jepang yang menyadari bahwa blunder dari misi di Mutiara tersebut merupakan kerugian yang sangat besar bagi Jepang. Chester Nimitz, seorang perwira AL yang ditugaskan oleh Presiden Roosevelt memimpin Armada AS di Pasifik setelah aksi Jepang di Hawaii, pernah berujar dalam memoarnya;
”Jika saja fasilitas-fasilitas itu (sempat) disapu armada Jepang, Operasi Militer AS di Pasifik dapat tertunda paling tidak hingga dua tahun lamanya”.
Lewat modal fasilitas pangkalan serta armada kapal induk yang relatif utuh, ditambah kemampuan adaptasi strategi yang fleksibel, pihak Amerika dapat secara cepat menyusun perlawanan balasan.  

Satu hal lagi yang cukup merisaukan pikiran Yamamoto adalah fakta bahwa Deklarasi Perang Jepang baru diterima petinggi AS di Washington DC setelah serangan usai dilancarkan. Peristiwa ini sebenarnya tidak dikehendaki oleh kalangan elit militer Jepang. Rencananya, deklarasi perang dapat didengar petinggi AS sekitar 30 menit sebelum operasi militer Jepang dimulai. Karena kendala teknis dalam penerjemahan kode kiriman Tokyo kepada staf Kedubes Jepang di DC, Deklarasi Perang Jepang baru diterima pihak AS beberapa jam setelah Perairan Mutiara luluh lantak. Para petinggi militer Jepang, terutama Yamamoto pun sadar, keterlambatan itu berarti pula bahwa serangan rancangannya berubah arti, dari sebuah pesan tegas kepada militer dan pejabat AS, menjadi sebuah pembokongan kepada seluruh rakyat Amerika. Yamamoto yang pernah beberapa tahun tinggal di AS untuk keperluan studi, paham sikap orang Amerika yang menggelegak jika harga diri mereka terkena sesuatu yang bersifat pengecut. Sikap penjagaan harga diri dari orang Amerika, dalam benak Yamamoto, akan mampu menggerakkan industri di Amerika menjadi kekuatan yang sangat mengerikan. Jika itu terwujud maka akan sulit bagi militer Jepang untuk menandinginya, apalagi jika peperangan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
(Pandangan Laksamana Yamamoto tentang kecilnya kans Jepang dalam Perang Pasifik sejalan dengan pendapat beberapa koleganya misalnya saja Laksamana Soemu Toyoda, yang pada babak akhir Perang Pasifik ditunjuk menjadi Pimpinan Tertinggi AL Jepang).

Tidak sempurnanya serangan Jepang di Pearl Harbor cukup menghantui pikiran Yamamoto selama Perang Pasifik berlangsung. Hingga hari naas kematiannya saat pesawat Yamamoto ditembak jatuh Operasi Udara AS di Kepulauan Solomon pada 18 April 1943, tak banyak yang tahu bagaimana suasana batin pahlawan perang Jepang tersebut. Yang pasti, apa yang dikhawatirkan Yamamoto memang menjadi kenyataan. Keunggulan Jepang di Pasifik praktis hanya berumur sekitar 6-8 bulan saja setelah Pearl Harbor terbakar. Selanjutnya hingga perang berakhir pada tahun 1945, Jepang lebih sering mengambil posisi defensif.

Tetapi, di mata para analis sejarah, sebenarnya kesalahan terbesar dari operasi militer di Perairan Mutiara adalah keputusan untuk menyerang itu sendiri. Penyerangan Pearl Harbor dipicu kekhawatiran akan munculnya intervensi AS kepada tindakan agresif Jepang dalam mewujudkan Kekaisaran Asia Timur Raya. Sebenarnya, sebelum Pearl Harbor diserang, mayoritas warga AS, sebagaimana tercermin dari sikap para senator di Kongres, sama sekali tidak memiliki ketertarikan dengan isu-isu peperangan. Bisa dimaklumi, karena AS berada pada kondisi yang tenteram, tak ada kepentingan dengan Perang Dunia yang saat itu sudah kurang lebih 2 tahun berkecamuk. Yang terancam langsung dengan rencana Asia Timur Raya milik Jepang sebenarnya kekuatan lama Eropa di Asia macam Inggris, Perancis dan Belanda, bukan Amerika Serikat. Lagipula, Amerika Serikat waktu itu bukan negeri yang begitu dominan pengaruh politiknya seperti pada periode paska Perang Dunia II. Sehingga keputusan Jepang untuk menggempur fasilitas Amerika di Pasifik sebenarnya agak berlebihan.

Bagi masyarakat di Indonesia, peristiwa serangan di Pearl Harbor dikenang sebagai pembuka babak penting menuju kemerdekaan. Dengan ditebus penderitaan lahir dan batin di masa pendudukan Jepang, bangsa Indonesia dapat mengenal dasar-dasar kemiliteran modern melalui organisasi paramiliter bentukan Jepang macam Heiho dan PETA. Selanjutnya, para pemuda hasil gemblengan Jepang juga memainkan peran yang tidak sedikit untuk tercetusnya Proklamasi Kemerdekaan, selang beberapa hari saja setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada kekuatan Sekutu, 15 Agustus 1945.