Tuesday, February 4, 2025

Pemberontakan Kapal Tujuh Provinsi di 'Ketika Bung Di Ende'

 

 (Foto Kapal De Zeven Provincien 1930 -an: Tropenmuseum)

 

Dari Film 'Ketika Bung Di Ende (KBDE)' - berlatar belakang kisah hidup Bung Karno saat menjalani masa pembuangan politik di Ende, Nusa Tenggara, pada kurun 1934 - 1938 - terdapat satu bagian yang menarik, atau bahkan dapat menjadi kontroversial, tergantung sudut pandangnya. Digambarkan dalam film yang rilis di 2013 tersebut, Sukarno bertemu dengan Martin Paradja, putra asli Nusa Tenggara Timur, salah seorang personel di AL Hindia - Belanda, sosok penting dalam Peristiwa Pemberontakan di Kapal De Zeven Provincien, atau Kapal Tujuh Provinsi di Februari 1933. Menurut catatan maupun pendapat mayoritas sejarawan, Martin Paradja termasuk yang gugur dalam peristiwa pemberontakan 1933 tersebut. Sehingga, ketika menjalani hukuman di Ende, Sukarno yang memulai hukuman buang di 14 Januari 1934, semestinya sudah tidak dapat lagi menemui Paradja dalam keadaan hidup.

Bung Karno memang pernah menulis bertemu seorang ahli mekanik tegap dan kekar saat di Ende, tetapi tidak disebutkan jatidiri atau nama yang bersangkutan. Bisa jadi yang dimaksud tersebut Martin Paradja, bisa jadi tidak. Tetapi kemudian dipahami, barangkali para pembuat film memiliki bukti lain. Selain itu, film membawa pesan nasionalisme masa itu, yang memang sedikit banyak terpengaruh oleh Peristiwa De Zeven Provincien.

Peristiwa Pemberontakan Kapal Tujuh Provinsi memang sebuah peristiwa yang dapat mengundang perhatian banyak sisi. Kapal Tujuh Provinsi, atau De Zeven Provincien, adalah nama kapal tempur di Angkatan Laut Hindia - Belanda. Peristiwa dipicu oleh penangkapan para buruh pribumi dari Dinas Laut Hindia - Belanda di Surabaya, akibat protes pemotongan gaji hingga 17 % pada Januari 1933. Para awak pribumi di Kapal Provincien memutuskan bergerak, sebagai bentuk solidaritas buat kolega mereka. Tindakan utamanya adalah menyandera kapal tempat mereka bekerja. Dalam pergerakan itu, Martin Paradja, juga nama - nama pribumi lain macam Kawilarang, Gosal, Kaunang, Suwandi, Rumumbi, Suparjan, Achmad, Luhulima dkk adalah pelaku utamanya. Gerakan itu juga mendapat dukungan dari beberapa rekan Belanda mereka, misalnya Maud Boshart. Kapal yang sedang bersandar di Aceh pada 4 Februari 1933, direbut pada pukul 22.00 waktu lokal. Selanjutnya kapal dibawa berlayar ke Surabaya.

Para kru pribumi, Paradja dkk, memilih destinasi Surabaya, agar beroleh perhatian lebih dari para atasannya. Disamping itu, para ABK Pribumi tersebut berharap aksi ini menjadi ajang pembuktian, akibat sering diejek oleh opsir kulit putih. Dalam banyak kesempatan, para opsir Belanda kerap mencibir bahwa Bumiputera tidak akan mampu mengoperasikan secara mandiri kapal elit sekelas De Zeven Provincien.

Pemerintah Hindia - Belanda di Batavia menanggapi aksi kru di Kapal Tujuh Provinsi dengan tangan besi. Pagi tanggal 10 Februari 1933, kira jam 09.18, saat memasuki Selat Sunda; De Zeven Provincien dikeroyok kapal - kapal AL Belanda. Kapal HNLMS Java, HNLMS Piet Hien, HNLMS Evetsen, HNLMS Leeuw disertai unit - unit pembom udara Dornier menghujani De Zeven Provincien dengan bom kapal dan torpedo laut. Kapal Tujuh Provinsi akhirnya menyerah, setelah 20 ABK Pribumi dan 3 ABK Belanda kehilangan nyawa. Martin Paradja, pun pula Gosal, Rumumbi, Suwandi dkk dilaporkan termasuk yang meninggal dalam peristiwa itu. Josias Kawilarang mengambil alih peran para rekannya yang gugur, membawa kapal yang terbakar hebat ke Pulau Onrust di Kepulauan Seribu. Dari sana para awak yang tersisa; 140 - an kru pribumi dan 50 kru Belanda ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Para ABK yang gugur sebagian besar dimakamkan di Onrust.

Peristiwa De Zeven Provincien pada akhirnya terdengar oleh banyak pihak, bahkan sampai di Eropa. Hingga beberapa minggu setelah kejadian, pers Eropa masih sibuk memberitakannya. Tindakan Belanda untuk 'menghabisi' para kru dari kalangan pribumi, hanya karena adanya aksi protes pemotongan gaji mengundang komentar negatif dari banyak kalangan. Peristiwa tersebut seakan menjadi penegas akan pandangan umum orang Eropa di Hindia yang menganggap kalangan Bumiputera bukan bagian penting dalam kehidupan mereka. Sementara bagi kaum pergerakan, Pemberontakan De Zeven Provincien menjadi inspirasi perlawanan serta cita - cita menuju kemerdekaan. Di masa kemerdekaan, Februari 1956, Pemerintah Indonesia memberikan penghormatan dengan memindahkan sebanyak 21 kerangka kru Kapal Tujuh Provinsi ke TMP Kalibata Jakarta.

Maka, terlepas apakah Bung Karno menemui sosok Martin Paradja saat di Ende, sebagaimana gambaran di Film KBDE, mungkin saja masih dapat diperdebatkan. Sedemikian adalah mafhum karena film adalah karya seni, bukan bukti sejarah otentik. Tetapi, intinya, barangkali hal tersebut, merupakan sisipan pesan, selain adanya pesan utama dari pembuat film. Disamping mengungkapkan wajah pembuangan politik di masa kolonial, film tersebut kemungkinan ingin mengingatkan adanya peristiwa penting terkait. Dalam hal ini selipan itu mengangkat sekelumit narasi Pemberontakan 1933, yang memang nyala api semangatnya semakin meredup dari ingatan banyak orang belakangan ini. Padahal daripadanya dapat ditemukan suatu aksi heroik terhadap kehormatan pribadi, loyalitas kolegial maupun patriotisme, dari golongan yang sering terlupa untuk mendapat penghargaan, secara layak ataupun sepadan.

Saturday, December 14, 2024

Sang Sinagara

 

 

 Ada cerita menarik dari Jaman Majapahit dulu. Selepas perang saudara di Majapahit yang kita kenal sebagai Perang Paregreg, Majapahit dilanda krisis berkepanjangan. Kepemimpinan pusat yang makin melemah, ekonomi tertekan, rakyat sulit cari makan maupun suasana politik tidak stabil menjadi penyakit di seluruh negeri. Majapahit terpecah – pecah menjadi banyak wilayah kecil, masing - masing dengan penguasa lokalnya sendiri – sendiri. Diantara para penguasa itu terjadi persaingan tidak sehat, tidak jarang juga saling bunuh. Sang Nata Wilwatikta waktu itu, Bhre Kerta Wijaya, tidak dapat berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan. Tekanan ekonomi, tekanan dari lawan politik dan serta ancaman keamanan kerajaan membuat Sang Prabu sibuk, tak sempat lagi berpikir tentang banyak hal.

Di tengah ketidakpastian seperti itu, timbul kerusuhan besar di Kotaraja. Lawan politik raja dan pendukungnya menguasai Kotaraja, bahkan kemudian berhasil merobek pertahanan utama istana. Sang Raja, Kertawijaya akhirnya, terbunuh oleh suatu keroyokan lawan politik dan pendukungnya di istananya sendiri.
Naiklah kemudian penguasa baru, namanya Wijayakumara, yang kemudian mengambil nama tahta Shri Rajasawardhana, serupa dengan nama seorang pembesar ternama di Masa Gajah Mada - Hayam Wuruk dulu.
Optimisme dari para pendukung Wijayakumara saat naik tahta sangat tebal. Wijayakumara dianggap pribadi yang mumpuni. Sebelum jadi raja, Wijayakumara pernah menjabat menjadi raja lokal di Pamotan maupun di Keling. Karenanya, Wijayakumara juga dikenal sebagai Bhre Pamotan, artinya penguasa di Pamotan, atau Bhre Keling, penguasa di Keling.
Setelah mulai menjabat, rupanya Wijayakumara baru paham, bahwa Majapahit sudah terlalu bobrok. Masalah yang dihadapi terlalu kompleks. Impian membuat Majapahit kembali berjaya terlalu tinggi. Karena untuk hidup sehari – hari saja, Majapahit sudah ’ngos – ngosan’.
Karena tekanan pekerjaan, setelah sekitar 2 tahun menjabat, Sang Raja mulai berubah kepribadian. Sering dipergoki oleh para pengawal dan hulubalang, Sang Raja ’ngomel – ngomel’ sendiri. Tiba – tiba saja Sang Raja marah tanpa sebab, kemudian menangis hebat, lalu tertawa - tawa. Seorang pengawal istana, tanpa tahu asal - muasalnya, tiba – tiba dilukai oleh raja. Rupanya jiwa dan ingatan Wijayakumara terganggu.
Mendapati kenyataan ini para pendukung serta loyalis istana jadi panik. Simbol kebanggaannya sekarang terkena gangguan jiwa. ODGJ lah kalau jaman sekarang. Berita begini harus ditutup rapat. Jangan sampai rakyat ramai mengetahui kalau rajanya sudah tidak waras. Bisa malu bukan kepalang. Apalagi kalau terendus lawan politik, bisa jadi berita buruk buat raja dan pengikutnya.
Bermacam cara sudah dicoba untuk mengobati sang raja, tapi tidak kunjung ada hasil. Sehingga muncul gagasan membawa Wijayakumara plesir di laut. Ini karena dulunya, sebelum memakai mahkota, Wijayakumara gemar pergi ke laut untuk ’enggar sarira’, berpetualang dan berekreasi, sebagaimana kebiasaan orang – orang Majapahit di jaman itu.
Plesir mewah di laut kemudian dipersiapkan, dan dilaksanakan. Semua tampak baik pada awalnya. Tapi di tengah – tengah pesiar, Sang Raja kumat, mengamuk sekenanya hingga hilang kendali. Tiba – tiba saja, Wijayakumara melompat ke laut, dan kemudian menemui ajal. Jenazahnya didharmakan di sebuah candi di daerah Sepang, Majapahit. Wijayakumara pun mendapat gelar baru, tapi sekarang statusnya anumerta, ’Bhre Pamotan Sang Sinagara’, artinya Penguasa Pamotan yang Mangkat di Segara (Laut). Tidak jelas di laut mana Wijayakumara kehilangan nyawanya. Ada yang bilang di Kolam Segaran, Trowulan, ada juga yang bilang di laut lepas. Tidak ada bukti mengenai lokasi kecelakaan. Tapi yang pasti, Wijayakumara tewas tenggelam saat berwisata maritim.
Selepas Wijayakumara mangkat, Majapahit pun lowong selama kira – kira 3 tahun tanpa penguasa. Tidak seorang pun yang berani menjadi raja. Tidak terbayang, bagaimana keadaan suatu negeri tanpa penguasa sama sekali, entahlah.
Sampai akhirnya nanti muncul seorang pembesar dari keluarga mendiang Bhre Kertawijaya, nama julukannya Bhre Wengker, atau penguasa Wengker. Wengker kalau sekarang sekitar Ponorogo. Bhre Wengker kemudian menjadi raja di Majapahit, dengan nama abhiseka: Hyang Purwawisesa.
Sekelumit cerita dari masa lalu ini dapat diartikan macam - macam. Tapi yang sudah terang bahwa kekuasaan dapat menggiurkan, sekaligus mematikan. Dikarenakan adanya tawaran berupa kewibawaan, kesenangan maupun gemerlap hidup, kekuasaan dapat mengundang ketertarikan. Tetapi di balik itu, tidak sedikit pula sisi-sisi tidak terlihat yang warnanya gelap sama sekali. Tepat kata Presiden Amerika Harry Truman yang mengibaratkan kekuasaan itu seperti harimau buas. Saat bertemu dengannya, pilihannya hanya dua: dapat mengendalikan atau mengelola sebaik mungkin, atau kemudian pilihan lainnya, jika gagal menyikapi, maka yang bersangkutan akan jadi korbannnya.
Wallahu alam.


Monday, July 10, 2023

Hitam Putih Kapitan Jonker

 

 
 
 

         
 
Di Marunda, di sekitar terminal peti kemas dekat pantai, terdapat makam jagoan tempo dulu. Tapi ini bukan Si Pitung atau Si Jampang jagoan Betawi yang konon punya darah Marunda. Ini makam Kapitan Jonker, perwira VOC yang berkarir sekitar 1659 - 1680 - an. Meski terdengar Eropa, pemilik nama Jonker bukanlah orang Eropa. Bahkan dia ini beragama Islam. Jonker seorang berdarah Nusantara, nama aslinya Ahmad Kawasa, bangsawan dari Manipa, Maluku. 
 
Saat muda, saat masih bernama Pangeran Ahmad, Jonker terlibat dalam Perang Hoamoal, atau dikenal dalam sejarah dunia sebagai The Great Ambon War 1651 - 1656. Jonker dalam perang itu menjadi salah satu anggota pasukan Maluku untuk melawan keberadaan VOC. Dalam peperangan itu, Pasukan Maluku mengalami kekalahan, sehingga Jonker beserta keluarganya menjadi tawanan. Sebagai tawanan, Jonker dkk kemudian dikirim ke Batavia menjadi budak VOC. Tetapi entah bagaimana ceritanya, Jonker malah mendapat kesempatan untuk menjadi serdadu VOC setiba di Batavia. Kemungkinan, opsir - opsir VOC telah mengendus bakat hebat ketentaraanya. 
 
Insting para petinggi VOC kelihatanya menemui kebenaran. Jonker menjadi prajurit pilih tanding setelah berseragam VOC. Dengan skuad Maluku yang dipimpinnya, Jonker tampil gemilang di setiap penugasan misi militer VOC. Karena itu, dia dapat gelar Jonker, artinya raja muda. 'Joncker Jouwa van Manipa', artinya lebih kurang dalam bahasa kita 'raja muda dari pulau Manipa'. Satu gelar ini menjadi pengakuan dan sanjungan atas prestasi mengkilap Kapitan Jonker. 
 
Selama berkarir militer bersama VOC, Jonker terlibat banyak misi penting. Beberapa misalnya Ekspedisi VOC di Srilangka serta India 1657 - 1658, Perang Minangkabau 1666, Perang Makasar melawan Sultan Hasanuddin 1666 - 1667, maupun Perang Trunojoyo di 1680 - an. Hampir semua misi itu dapat diselesaikan Jonker dengan gemilang. Aliansi Jonker dengan pejabat VOC: Cornelis Speelman (kelak Speelman sempat menjabat Gubernur Jenderal di Batavia), serta Arung Palakka seorang Pangeran Bugis, menjadi salah satu inti kekuatan VOC dalam gerak bisnis dan politik perusahaan. Secara khusus, Trio Speelman - Jonker - Palakka, menjadi resep manjur VOC dalam memberangus kekuatan - kekuatan lokal penentang dan musuh kekuatan asing di Perairan Nusantara. Karena kontribusi karirnya terhadap VOC, Jonker sempat mendapat hadiah berupa wilayah kekuasaan khusus dari pimpinan VOC. Daerahnya ada di Marunda, namanya Pejongkeran, salah satu areal di Jakarta Utara sekarang.
 
Tapi itulah, di dunia fana tidak ada yang abadi. Saat Speelman lengser dari jabatan Gubernur Batavia, kemudian Palakka sudah mapan dengan posisinya di Bone, maka tinggallah Jonker sendirian di Batavia. Lawan - lawan politik Speelman, utamanya Isaac de Martin mulai banyak mengusik ulang rekor karir Speelman yang terkenal korup itu. Jonker jadi kena getahnya. Posisi Jonker sering mendapat tekanan dari para mantan lawan politik Speelman. Menurut rumor, Jonker sempat berusaha menggalang komunikasi dengan penguasa lokal, macam di Banten dan Mataram untuk mempertahankan diri. Tetapi nampaknya tidak terlalu memperoleh hasil.
 
Yang pasti perseteruan Jonker dan para Petinggi VOC menjadikan suasana di Batavia memanas. Bermacam kerusuhan timbul karenanya. Dalam satu kekacauan pada 23 Agustus 1688, pecah baku tembak mematikan. Jonker tertembak dalam kerusuhan itu, kemudian badannya ditebas pedang opsir VOC bernama Letnan Holcher. Jasad Jonker 'dikeler', untuk kemudian dipamerkan di tengah Kota Batavia selama 3 hari, sebelum kemudian dimakamkan di Marunda, bekas wilayah kekuasaannya. 
 
Kisah Jonker, atau Pangeran Ahmad, atau ada juga yang menyebutnya Pangeran Jafar Maluku ini memang hitam - putih. Buat kita kebanyakan di Indonesia, agak sulit menghakimi posisi Jonker. Jonker dapat disebut sebagai penghianat dalam riwayat Indonesia,  karena selama karir, Jonker sering berada di kubu 'lawan' untuk menekan para pahlawan tradisional jagoan kita. Tetapi Jonker dapat disebut juga pahlawan, terutama oleh keluarga dan kaumnya. Keputusan Jonker untuk bergabung dengan VOC membebaskan kemungkinan kehidupan kelam sebagai budak tawanan perang bagi orang - orang Maluku saat itu. Lagipula, kalau didasarkan pada nilai nasionalisme, Jonker tentunya masih belum mengenal konsep tersebut di masanya. Ini karena konsep nasionalisme Indonesia baru timbul pada awal - awal tahun 1900 -an, ratusan tahun setelah Jonker terbunuh. Hingga hari ini,nama Kapitan Jonker masih sangat dihormati oleh sebagian komunitas Maluku di Jakarta. 
 
Kontroversi tentang Kapitan Jonker memang masih menarik dibicarakan. Hingga hari ini, penghianat ataukah pahlawan buat Jonker, sangat bergantung subjektifitas sudut pandang pengamatan semata. Tetapi, barangkali saja, Jonker, sebagai seorang manusia biasa, hanyalah berusaha untuk pragmatis dalam merespon perubahan hidupnya. Bertahan dari tekanan, untuk kemudian mendapatkan kehidupan yang layak bagi diri, keluarga maupun sukunya, adalah pemikiran lumrah bagi setiap manusia. Jonker sebagaimana kebanyakan manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mungkin hanya dapat  menjalani garis suratan, tetapan baku dari Allah Ta'ala, Tuhan Sang Serba Maha.
Wallahu alam. 
 
Foto Ilustrasi: Makam Kapitan Jonker, Marunda, Cilincing, Jakarta (Foto: Gam)

Tuesday, December 20, 2022

Dari Final Piala Dunia 2022

 

 


Final Piala Dunia 2022 akhir pekan kemarin (18/12/2022) barangkali bisa dikatakan final sepakbola terbaik yang pernah ada. Bagaimana Perancis dan Argentina saling berkejaran bikin gol, benar – benar bikin copot jantung para pendukung kedua tim finalis. Kebetulan, di final keduanya tampil prima. Bahkan boleh dikata, itu penampilan terbaik kedua tim di sepanjang turnamen. Kalau misalnya diperkenankan, baik Argentina maupun Perancis sebenarnya pantas berbagi gelar, dengan misalnya Argentina memegang gelar selama 2 tahun pertama, karena mereka bikin gol lebih dulu di partai puncak, kemudian Perancis menyimpan gelar 2 tahun berikutnya.

Tapi toh, yang Namanya final harus memunculkan satu nama pemenang, dan kali ini yang menang Argentina. Keberhasilan Lionel Messi dan rekan tidak hanya menuntaskan impian Messi, sang bintang untuk jadi juara di level senior, tetapi juga mengulang sukses Daniel Passarella dkk di 1978, serta Diego Maradona dan rekan di 1986.

Kesuksesan Argentina merebut gelar di 2022 sebenarnya, bukanlah sesuatu yang tiba – tiba. Argentina melakukan banyak pembenahan di timnas senior, utamanya sejak usai Copa America 2019. Sekitar 2 – 3 tahun setelahnya, Argentina muncul lagi menjadi tim yang sangat solid. Tahun 2021 mereka merebut Copa America, kemudian Finalissima 2022 dan teranyar Turnamen Dunia 2022 ini.

Sementara bagi Perancis, capaian ‘runner- up’ di turnamen kali ini tidak perlu membuat mereka berkecil hati. Tampilan heroik Kylian Mbappe di final sangat mengesankan, juga penampilan pemain – pemain muda hasil binaan sepakbola nasional mereka menyiratkan akan potensi besar tim ini di masa mendatang.

Sementara itu buat kita di Indonesia, tentunya banyak pelajaran diambil dari pertandingan – pertandingan dari putaran final kali ini. Penampilan apik tim – tim yang sebelumnya dianggap pelengkap macam Jepang, Maroko ataupun Korea Selatan, termasuk performa super tim finalis di partai puncak, menjadi bukti bahwa suatu prestasi tidak dapat diraih secara instan. Butuh kerja serius dan konsisten dari semua pihak terkait, baik di dalam, maupun yang berada di luar lapangan.

Selamat sekali lagi buat Argentina, Juara Dunia Piala Dunia 2022.

Vamos.  

 

Wednesday, August 19, 2020

17 Agustus di Pegangsaan Timur, 75 Tahun Lalu

 

(Foto: 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56. Sumber: Arsip Nasional)

 

Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, rumah Bung Karno dan keluarga, hari itu, Jumat, 17 Agustus 1945, atau 9 Ramadhan 1364 H, suasananya agak berbeda. Ada mikrofon sebagai pengeras suara sedang dipersiapkan Mr Wilopo. Sementara di teras dan halaman rumah, banyak tokoh penting hadir, beserta puluhan pemuda - pemudi. Wakil Walikota Jakarta Suwiryo. dr Muwardi, ketua Barisan Pelopor juga tampak disana. Tidak ketinggalan Mr Abdul Gaffar Pringgodigdo, Tabrani, dan SK Trimurti. Sementara, tiang bendera dari bambu yang dipersiapkan pemuda Suhud Sastro Kusumo dari Barisan Pelopor, sudah dipasang di depan teras rumah.

Pukul 9.50 pagi para hadirin mulai gelisah. Tampak dari kejauhan seorang opsir Jepang berada di luar pagar, menimbulkan rasa khawatir buat yang hadir. Seketika Sukardjo Wiryopranoto, mantan anggota Volksraad, Dewan Rakyat di Jaman Hindia Belanda, datang menyongsong. Diajaknya Si Opsir Jepang untuk omong – omong. Tidak diketahui apa isi pembicaraannya, barangkali sekadar akal - akalan Pak Sukardjo untuk memecah perhatian Si Opsir. Melihat perkembangan sedemikian, Sudiro meminta dr Muwardi untuk mendesak Bung Karno, agar Proklamasi segera dibacakan. Tetapi Bung Karno menolak, karena Bung Hatta belum datang.

“ Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada, kalau Mas Muwardi tidak mau tunggu, silahkan baca Proklamasi sendiri ”

Semua hadirin pun hanya bisa diam, tidak ada yang berani bersuara. Bung Karno kalau sudah punya keputusan, sulit untuk berubah.

Tetapi semua pun paham, termasuk Bung Karno, kebiasan tepat waktu Bung Hatta. Bung Hatta tidak pernah 'ngaret' apalagi meleset bikin janji. Di hari bersejarah itu, lagi – lagi Bung Hatta kembali menunjukkan konsistensi kedisiplinannya. Tepat pukul 09.55, Bung Hatta tiba di Pegangsaan Timur 56. Memakai setelan jas putih–putih, Bung Hatta segera menemui Bung Karno, untuk kemudian segera mempersiapkan diri. Selaras dengan warna baju Bung Hatta, Bung Karno memakai pakaian jas dan celana serba putih. Dua serangkai pemimpin pergerakan kemerdekaan itu pun muncul di teras rumah. Hadirin menunggu dengan khidmat dan sigap, mematuhi aba-aba Latief Hendraningrat, Perwira PETA.

Tepat pukul 10.00. Bung Karno menuju podium, dengan mantap berpidato:

“ Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu.
Dengarkanlah Proklamasi kami:

PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta , 17 Agustus 1945.
Atas nama bangsa Indonesia,
Soekarno - Hatta.

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu”

Usai pembacaan naskah proklamasi, upacara bendera singkat dilakukan. Latief Hendraningrat dan Suhud Sastro Kusumo menjadi pengerek Bendera Dwi Warna. Sang Merah Putih hasil jahitan Ibu Fatmawati, istri Bung Karno, kemudian berkibar diiringi Lagu Indonesia Raya. Sang Saka berkelebat gagah, membuat terkesima siapapun. Hadirin menangis haru, bersalaman, berpelukan, ada pula yang kemudian berteriak lantang: merdeka...! merdeka...!...bersahut-sahutan.

Resmi sudah Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Usai pula penderitaan ratusan tahun bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah. Terbuka kesempatan untuk menjadi peradaban maju, lepas dari kemerosotan fisik, serta terutama jebloknya mental dari Masa Kolonial. Semuanya memang masih belum selesai begitu saja. Proklamasi 1945 adalah awal untuk menjawab berbagai tantangan, hambatan, rintangan dan ancaman bagi cita – cita suatu negeri merdeka. Pekerjaan maharaksasa masih harus dilaksanakan, mewujudkan semua keinginan itu. Sebuah tugas amat berat, tetapi tidak akan terbersit kata mundur, apapun alasannya, bagaimanapun kondisinya.
Sekali layar terkembang, pantang surut mundur ke belakang. Dengan semangat dan tekad membulat, bekerja rapi dalam rasa persatuan, semua pasti bisa ditunaikan.
Insya Allah, Indonesia merdeka selama – lamanya.

75 Tahun Indonesia Merdeka
17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2020