Saturday, January 24, 2026

Kemenangan (Kembali) Yoweri Museveni

 


 

Ada kabar 'menarik' dari Afrika Timur, tepatnya dari Uganda. Akhir minggu lalu, 17 Januari 2026, Yoweri Kaguta Museveni memenangkan Pemilu Pilpres Uganda untuk ke - 7 kalinya. Hebatnya, berturut - turut sejak 1986 tanpa sela. Artinya, Museveni sudah 40 tahun jadi presiden di Uganda, dan akan berlanjut lagi.

Museveni menambah rekor khas dari Uganda, punya pemimpin 'kharismatik' yang kemudan 'dikenal' dunia luas. Sebelumnya, dunia mengenal Milton Obote, bapak kemerdekaan Uganda, punya gaya kepemimpinan kompleks. Lalu, Obote tersingkir oleh tokoh militer Idi Amin lewat kup di 1971. Setelah masa Idi Amin yang terkenal brutal, Obote sempat balik di politik Uganda pada separuh babak pertama dekade 1980 - an, sebelum akhirnya lengser lagi. Timbulnya 'chaos' setelah tersingkirnya Milton Obote memunculkan nama Museveni di kekuasaan pada 1986.

Menurut cerita dari bermacam media massa, Museveni punya kiat ciamik untuk bisa bertengger di tampuk negeri begitu lama. Nomor satu, jelas, ekonomi harus dibuat stabil; infrastruktur kesehatan, sekolah, universitas, jalan raya dibangun, untuk dapat diakses rakyat banyak secara mudah dan murah. Di Uganda, Museveni sudah jadi pahlawan tak tergantikan dengan kebijakan ini. Kedua, bikin aliansi yang erat dengan Barat, ini poin penting. Lalu yang ketiga, tanpa ampun buat lawan politik, bilamana perlu undang - undang dirubah agar tidak banyak terjadi dinamika domestik. Pembatasan umur dan pembatasan masa jabatan presiden dapat terhapus dari UU di Uganda lewat manuver politik yang legal. Kediktatoran, dijalankan secara 'bijak', setidaknya dalam terminologi Museveni dan pendukungnya.

Tahun ini, lebih dari 70 % rakyat Uganda, memberikan suara buat Museveni.

Alhasil, Museveni kembali akan berkuasa di Uganda, setidaknya untuk 5 tahun ke depan. Di usia ke - 81, beliau sudah menyiapkan Muhoozi Kainerugaba,anak lelaki tertuanya, kebetulan sekarang menjabat sebagai pimpinan militer Uganda, untuk menjadi calon suksesor.

Cerita macam begini tipikal dan lazim sebenarnya, buat di banyak negeri di Asia, Afrika maupun Amerika Latin.

TIdak salah jika seorang cerdik pernah berkomentar ' kediktatoran kadang aneh, banyak benci dan mencibir, tapi tak sedikit yang suka, entah bagaimana dan apa alasannya. Bahkan di suatu saat, banyak yang sangat merindukannya, untuk dapat kembali bertemu'

Wallahu alam.